Belajar dari Pemimpin NU Terdahulu: Mengapa Agama dan Politik Hari Ini Mengalami Krisis Identitas?
​Penulis: KH. Mohamad Muzamil (Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah)
​Pusaran kehidupan modern yang serba cepat kerap menyuguhkan polarisasi tajam di tengah masyarakat. Namun, jika kita menengok ke belakang, sejarah Nahdlatul Ulama (NU) telah mewariskan khasanah luar biasa tentang bagaimana agama dan politik seharusnya berjalan beriringan. Tokoh-tokoh ulama terdahulu berhasil meletakkan arah perjuangan yang harmonis, sehingga dinamika kekuasaan tidak pernah mengorbankan nilai-nilai spiritualitas demi kemaslahatan umat.
​Sayangnya, kondisi kontemporer saat ini justru menampilkan potret yang sebaliknya karena kita sedang menghadapi krisis identitas. Fenomena tersebut mencuat akibat mulai hilangnya tradisi luhur masa lalu, sementara pola baru yang lebih maslahat belum sepenuhnya mewujud menjadi kebiasaan. Ketika para penggerak organisasi hanya menjadikan agama dan politik sebagai alat perebutan kekuasaan praktis, di sanalah krisis identitas mulai menggerogoti ruang batin mereka.
​Keteladanan Tanpa Pamrih Para Ulama Pendiri NU
​Sejarah mencatat betapa tingginya adab dan kerendahan hati para ulama terdahulu. Hubungan antara Syaikhona KH Cholil Bangkalan dan Hadratussyaikh KH Hasyim As’ari menjadi contoh nyata yang sangat indah. Syaikhona Cholil tanpa ragu sedikit pun berguru kepada muridnya sendiri, Hadratussyaikh, sepulang sang murid menimba ilmu dari Makkah.
​Sifat taslim (berserah diri dan hormat) serta keengganan berebut jabatan juga menjadi warna utama kepemimpinan NU masa lalu. Pola keluhuran budi ini terlihat jelas dalam beberapa peristiwa bersejarah:
- ​Mbah Abdul Wahab Hasbullah: Mengubah istilah Rais Akbar menjadi Rais Aam demi menghormati Hadratussyaikh yang wafat pada tahun 1947.
- ​Mbah Bisri Syansuri: Menolak permintaan banyak kiai untuk meneruskan kepemimpinan Syuriyah karena beliau sangat menghargai Mbah Abdul Wahab yang saat itu masih ada di ndalem meski dalam kondisi sakit (gerah).
- ​Mbah KH Ali Ma’shum: Menghormati keputusan Forum Munas Kaliurang yang memilih beliau sebagai Rais Aam baru, padahal saat itu beliau sedang tidak berada di lokasi acara. Walau awalnya sempat tidak berkenan, ulama kharismatik ini akhirnya menerima amanah tersebut demi kemaslahatan organisasi.
​Perbedaan pandangan politik pun tidak membuat hubungan antar-ulama menjadi retak. Ketika Mbah As’ad Syamsul Arifin menyatakan mufaroqoh (memisahkan diri) dari Gus Dur pasca-Muktamar Asembagus 1984, beliau tidak menggerakkan massa untuk merusak organisasi. Jalur batin dan kebijakan yang bijak membuat Jam’iyyah NU tetap berjalan konsisten melayani umat.
​Akar Masalah: Cinta Dunia yang Berlebihan
​Bagi para ulama terdahulu, aspek spiritual dan urusan duniawi tidak saling bertentangan. Mereka menempatkan keduanya dalam satu garis lurus untuk mencapai kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
​Akar masalah dari krisis saat ini, kita akui atau tidak, berpangkal dari cinta dunia yang berlebihan (wahn). Manusia boleh saja menggenggam dunia ini, namun jangan sampai membiarkan dunia menguasai hati. Sebab, Tuhan menciptakan dunia untuk manusia, tetapi menciptakan manusia untuk kehidupan akhirat nanti.
​Filosofi Ikan dan Air Asin
​Sebagai organisasi yang lahir dan besar di bumi Pertiwi, NU senantiasa berinteraksi dengan dinamika nasional. Penulis mengibaratkannya seperti hubungan antara ikan dan lautan:
- ​Saat ikan hidup: Air laut yang asin tidak akan mampu memengaruhi rasa daging ikan.
- ​Saat ikan mati: Rasa asin laut akan langsung meresap dan mengubah rasa tubuh ikan.
​Ikan adalah ibarat mata hati batin jam’iyyah, sedangkan rasa asin adalah ibarat kilauan kehidupan dunia fana.
​Solusi: Pemberdayaan dan Saling Mengingatkan
​Siapa yang memegang tanggung jawab agar krisis ini tidak terus berulang? Pihak yang paling bertanggung jawab adalah mereka yang memilih dan mereka yang mengesahkan di dalam struktur organisasi.
​Sistem kepengurusan NU bergerak secara sirkular. Pengurus Ranting dipilih oleh anggota, lalu MWC dipilih oleh Pengurus Ranting. Selanjutnya, PCNU memilih pengurus tingkat atasnya hingga bermuara ke PBNU. Karena mata rantai kepengurusan ini saling bertautan, maka solusi utama yang paling relevan adalah saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran (watawa shaubil haqqi watawa shaubish shabr).
​Langkah Konkrit ke Depan:
- ​Musyawarah dari Hati ke Hati: Menyingkirkan ego sektoral demi kepentingan bersama.
- ​Riyadhoh dan Mujahadah: Mengimbangi langkah strategis organisasi dengan laku spiritual guna menolak kerusakan.
- ​Mewujudkan Maslahat: Menjalankan roda organisasi secara sukarela dan terus-menerus oleh segenap pengurus dan anggota.
​Semoga generasi hari ini mampu merawat dan menghidupkan kembali keteladanan para muassis (pendiri) NU tersebut.
