KH Ubaidillah Shodaqoh Tegaskan Khidmah NU dari Tanah Bintoro
Penulis: Muhammad Roghib S.T
Demak, ISR – KH. Ubaidillah Shodaqoh, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, kembali menegaskan arah perjuangan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi pelayanan umat saat menghadiri peringatan Harlah 1 Abad NU di Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, Ahad, 1 Februari 2026. Kehadiran ulama sepuh PWNU ini menjadi penanda penting bahwa gerak NU harus selalu berpijak pada sejarah, spiritualitas, dan kepekaan sosial.
Di tengah terik matahari dan suasana pembangunan Gedung MWCNU Dempet yang belum rampung, KH. Ubaidillah Shodaqoh menyampaikan Mauidhoh Hasanah yang sarat makna. Bagi beliau, lokasi acara yang sederhana justru mencerminkan watak asli NU yang tumbuh dari bawah, dari gotong royong, dan dari denyut kehidupan jamaah.
KH. Ubaidillah Shodaqoh dan Spirit Sejarah Bintoro
Dalam tausiyahnya, KH. Ubaidillah Shodaqoh mengajak warga NU untuk menengok kembali kemuliaan tanah Demak sebagai pusat awal peradaban Islam di Pulau Jawa. Ia menyebut Demak sebagai tanah pilihan Allah SWT yang pernah menjadi pusat Kerajaan Islam Bintoro dan perjuangan para Wali Songo.
Menurut Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah ini, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi sumber energi perjuangan. Spirit Bintoro harus terus dihidupkan melalui pemeliharaan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah, penguatan akhlak, serta pemikiran ke-NU-an yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Pesan Tegas KH. Ubaidillah Shodaqoh tentang Pelayanan Umat
KH. Ubaidillah Shodaqoh juga menekankan bahwa orientasi utama NU adalah pelayanan kepada umat, bukan sekadar dinamika struktural atau euforia politik organisasi. Ia mengingatkan para pengurus NU agar tidak larut dalam hiruk pikuk persoalan di tingkat pusat dan melupakan tugas utama di akar rumput.
Dengan gaya lugas, beliau menyampaikan pesan yang menggetarkan: jika masih ada satu saja warga NU yang tidak makan dalam sehari, maka keberadaan NU patut dipertanyakan. Pernyataan ini bukan bermaksud melemahkan, melainkan menjadi cambuk moral agar NU memperkuat jaringan sosial, kepedulian, dan solidaritas internal.
Ia juga menekankan pentingnya tenggang rasa dan saling menutupi kekurangan antarpengurus demi menjaga kekompakan organisasi.
Keteladanan Sosial KH. Ubaidillah Shodaqoh
Keteladanan KH. Ubaidillah Shodaqoh tidak hanya tampak dalam tutur kata, tetapi juga dalam tindakan nyata. Di tengah acara berlangsung, saat seorang pedagang keliling melintas di depan panggung, beliau spontan memberikan sedekah dari dalam pecinya.
Tindakan sederhana tersebut menjadi pelajaran hidup bagi para jamaah tentang makna kepekaan sosial yang tidak mengenal situasi dan waktu. Sikap ini mencerminkan nilai dasar NU: khidmah yang lahir dari keikhlasan, bukan pencitraan.
Dorongan KH. Ubaidillah Shodaqoh untuk Kemandirian NU
Dalam kesempatan yang sama, KH. Ubaidillah Shodaqoh juga memberikan dorongan kuat agar pembangunan Gedung MWCNU Dempet dapat segera dituntaskan. Ia memasang target lima bulan sebagai bentuk optimisme dan kepercayaan kepada semangat gotong royong warga NU.
Menurut beliau, gedung bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat pergerakan dan pelayanan umat. Keberadaan gedung MWCNU diharapkan mampu memperluas jangkauan khidmah NU dalam bidang sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan.
Ulama Penjaga Arah Perjuangan NU
Sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH. Ubaidillah Shodaqoh tampil sebagai figur ulama yang menjaga arah perjuangan NU agar tetap berada di jalur khidmah, moderasi, dan kepedulian sosial. Kehadirannya di Dempet tidak hanya memperingati satu abad NU, tetapi juga meneguhkan kembali jati diri NU sebagai organisasi yang hidup bersama umat.
Dari tanah Bintoro, KH. Ubaidillah Shodaqoh mengingatkan bahwa kekuatan NU tidak semata terletak pada bangunan megah atau struktur besar, melainkan pada keikhlasan melayani dan kesanggupan merawat nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
