Haul Simbah KH. Shodaqoh Hasan Digelar Khidmat, Ribuan Jamaah Hadir di Ponpes Al-Itqon
Semarang, ISR — Suasana khidmat menyelimuti acara Haul Simbah KH. Shodaqoh Hasan dan Nyai Hj. Hikmah Abdurrosyid yang digelar di Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Semarang, Rabu malam (25/3/2026). Ribuan jamaah dari berbagai daerah, termasuk alumni ponpes dan masyarakat sekitar, memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian acara.
Acara dimulai dengan khataman Al-Qur’an yang dipimpin oleh Ustadz Jumali. Selanjutnya, pembacaan Surah Yasin dipimpin oleh KH. Fauzi Shodaqoh, kemudian dilanjutkan dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh KH. Kharis Shodaqoh.
Dalam sambutannya, perwakilan keluarga, KH. Mu’tasim Shodaqoh, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para jamaah. Ia juga memohon maaf apabila dalam penyelenggaraan acara terdapat kekurangan. “Kami sekeluarga memohon maaf jika dalam penyambutan maupun pelaksanaan acara ini masih banyak kekurangan. Semoga kehadiran panjenengan semua menjadi keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Ubaidillah Shodaqoh. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya memahami makna nasab, yang tidak hanya bersifat jasadi (keturunan fisik), tetapi juga ruhi (spiritual).
“Nasab itu ada dua, yaitu nasab jasadi dan nasab ruhi. Tidak semua anak dari orang alim otomatis mengikuti kealiman orang tuanya, itu hanya nasab jasadi. Seperti kisah Kan’an, putra Nabi Nuh, yang hanya mendapatkan nasab jasadi, bukan nasab ruhi,” jelasnya.

Beliau menambahkan bahwa nasab ruhi lebih utama dan kuat, karena berkaitan dengan nilai keimanan, akhlak, dan keberkahan ilmu. “Mbah Kharis, Mbah Shodaqoh, dan panjenengan semua yang hadir ini, semoga termasuk dalam nasab ruhi, yakni mereka yang terhubung secara spiritual dengan para ulama,” imbuhnya.
Sementara itu, Gus Kafi, cucu Simbah KH. Shodaqoh, dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan harapan agar generasi muda dapat meneruskan perjuangan para masyayikh. Ia mengajak para santri dan alumni untuk menjaga ajaran, akhlak, serta nilai-nilai keilmuan yang telah diwariskan.
Acara ditutup dengan doa bersama yang penuh haru, memohon keberkahan, ampunan, serta keteladanan dari para ulama yang diperingati dalam haul tersebut.
