KH. Abdul Basith bersama KH. Munib

KH. Ubaidillah Shodaqoh, Pilihan Ideal Rais Aam PBNU

Semarang, ISR – KH. Ubaidillah Shodaqoh, Pilihan Ideal Rais Aam PBNU. Sosok KH. Ubaidillah Shodaqoh dinilai sebagai pilihan ideal Rais Aam PBNU oleh KH. Abd Basith, Lc, Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Ma’wa Ngaliyan. Penilaian tersebut lahir dari pandangan bahwa Nahdlatul Ulama memerlukan pemimpin tertinggi yang tidak hanya kuat dalam penguasaan ilmu keagamaan, tetapi juga hadir menyatu dengan denyut persoalan umat, sosial kemasyarakatan, dan lingkungan hidup.

Dalam pandangan KH. Abd Basith, KH. Ubaidillah Shodaqoh, yang di kalangan masyarakat akar rumput akrab disapa Mbah Ubed, merupakan sosok ulama yang tumbuh dan ditempa langsung dari bawah. Beliau lahir dari kehidupan masyarakat biasa, menyatu dengan wong cilik, dan memahami persoalan umat bukan dari kejauhan, melainkan dari pengalaman hidup yang nyata. Corak keulamaan seperti inilah yang selama ini menjadi kekuatan utama Nahdlatul Ulama.

Saat ini, KH. Ubaidillah Shodaqoh mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah. Amanah tersebut dijalani dengan keteduhan, kehati-hatian, dan keteguhan menjaga marwah keulamaan. Dalam perannya, Mbah Ubed tampil sebagai rujukan moral dan keagamaan, baik bagi struktural NU maupun masyarakat luas yang membutuhkan panduan di tengah dinamika zaman.

KH. Ubaidillah dikenal sebagai ulama yang tidak berjarak dengan umat. Kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan hidup menjadi salah satu ciri penting keulamaannya. Beliau secara konsisten mengawal isu lingkungan, termasuk persoalan ekologis di kawasan Demak–Sayung, sebagai bentuk tanggung jawab keagamaan bahwa menjaga alam adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia.

Tidak hanya soal lingkungan, Mbah Ubed juga dikenal berdiri bersama para petani. Beliau mengawal kepentingan petani agar tetap berdaulat atas tanah dan sumber penghidupannya, sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bagi beliau, membela petani berarti menjaga ketahanan pangan dan martabat masyarakat desa.

Dalam sejumlah peristiwa, KH. Ubaidillah Shodaqoh bahkan tampil memberikan perlindungan moral dan menjadi penjamin ketika para aktivis yang memperjuangkan keadilan sosial dan lingkungan harus berhadapan dengan persoalan hukum. Sikap ini menegaskan bahwa ulama harus hadir ketika umat mengalami tekanan, bukan justru menjaga jarak dari penderitaan rakyat.

Perhatian Mbah Ubed juga tercurah pada dunia kebudayaan. Kedekatannya dengan para sastrawan dan budayawan menunjukkan pandangan keislaman yang ramah, inklusif, dan berakar pada kearifan lokal. Bagi beliau, sastra dan budaya merupakan bagian dari dakwah kultural yang efektif dalam merawat nurani, akal sehat, dan persatuan umat.

Bagi KH. Abd Basith, keseluruhan kiprah KH. Ubaidillah Shodaqoh tersebut merupakan cerminan sosok Rais Aam PBNU yang dibutuhkan hari ini dan ke depan. Ulama yang lahir dari akar rumput, kokoh dalam ilmu, luas dalam kepedulian sosial, serta istiqamah menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah adalah jaminan bagi NU untuk tetap menjadi penopang umat dan bangsa.

Dengan latar keulamaan yang matang, pengalaman memimpin di tingkat wilayah, serta keberpihakan nyata kepada umat dan lingkungan, KH. Ubaidillah Shodaqoh sangat layak dipandang sebagai pilihan ideal Rais Aam PBNU.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!