Umi Waheeda bersama para santri

Umi Waheeda, Pemimpin Pesantren yang Menghidupi 15 Ribu Santri

ISR – Umi Waheeda kembali menarik perhatian publik karena keberhasilannya membangun kemandirian ekonomi pesantren. Di tengah banyak lembaga yang bergantung pada bantuan anggaran, ia justru memilih menciptakan sistem ekonomi sendiri. Dengan demikian, ia fokus pada produksi dan pemberdayaan santri secara langsung. Alhasil, pesantren mampu bertahan dan berkembang tanpa menarik biaya pendidikan dari para santri.

Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman menampung sekitar 15.000 santri. Selain itu, para santri makan tiga kali sehari dan tinggal di asrama yang layak. Tak hanya itu, pesantren menyediakan pendidikan formal hingga perguruan tinggi. Menariknya, semua layanan tersebut diberikan secara gratis sebagai bagian dari visi kemandirian lembaga.

Ekosistem Ekonomi Jadi Tulang Punggung Pesantren

Untuk menjaga keberlangsungan pesantren, Umi Waheeda membangun puluhan unit usaha produktif. Secara bertahap, ia mengembangkan sekitar 59 unit usaha yang menopang kebutuhan operasional. Di antaranya pabrik roti, produksi tahu, susu kedelai, percetakan, serta pengelolaan pertanian skala besar.

Sementara itu, para santri ikut terlibat dalam proses produksi sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan hidup. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya kemandirian.

“Santri harus tumbuh dari kemandirian, bukan dari belas kasihan,” ujarnya.

Karena itu, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Sebaliknya, pesantren juga berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Sikap Tegas Tolak Praktik Pungutan Liar

Pada tahun 2008, Umi Waheeda menghadapi praktik pungutan liar yang mencoba masuk ke lingkungan pesantren. Namun demikian, ia tidak memilih jalan kompromi. Sebaliknya, ia mengajak ribuan santri menolak praktik tersebut secara terbuka. Langkah tegas ini menunjukkan komitmennya menjaga integritas lembaga sekaligus melindungi sistem pendidikan yang sehat.

“Kalau kita mandiri, kita punya keberanian untuk berkata tidak pada sistem yang merusak,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia meyakini kemandirian ekonomi mampu melindungi lembaga dari tekanan pihak luar dan menjaga martabat pesantren.

Latar Belakang Akademik dan Kepemimpinan

Umi Waheeda lahir di Singapura dan menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor komunikasi. Selanjutnya, ia menerapkan manajemen modern dalam pengelolaan pesantren. Di sisi lain, ia tetap memadukan disiplin akademik dengan nilai-nilai pesantren. Hasilnya, terbentuk sistem pendidikan sekaligus ekonomi yang berkelanjutan.

Setelah wafatnya sang suami, Habib Saggaf, ia memikul tanggung jawab besar menjaga pesantren tetap gratis. Sejak saat itu, ia memimpin langsung berbagai program ekonomi dan pendidikan. Berkat kepemimpinannya, kualitas pengelolaan pesantren terus meningkat dan membuktikan bahwa kepemimpinan diukur dari kerja nyata.

Inspirasi Kemandirian Ekonomi Pesantren

Kini, model kemandirian yang dikembangkan Umi Waheeda menjadi inspirasi bagi banyak lembaga pendidikan. Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat mandiri tanpa bergantung penuh pada bantuan. Di samping itu, produksi dan usaha mandiri menjadi sumber kekuatan utama yang menopang operasional.

Pada akhirnya, pendekatan ini membantu pesantren bertahan di tengah keterbatasan anggaran pendidikan. Bahkan, ribuan anak dari berbagai daerah tetap memperoleh pendidikan gratis setiap tahun. Dengan demikian, kisah Umi Waheeda menjadi contoh nyata bahwa keberanian membangun sistem sendiri mampu menjaga martabat sekaligus menciptakan perubahan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!