Menolak Sunyi, Upaya NU Hidupkan Lagi Naskah Kuno Ulama Nusantara di Era Digital
​Kendal, ISR — Warga Nahdliyin terus mengambil langkah nyata untuk menjaga warisan intelektual mereka. Semangat menolak sunyi, upaya NU hidupkan lagi naskah kuno ulama Nusantara di era digital kini menjadi fokus utama mereka. Fokus baru ini mulai bergema dari bilik-bilik pesantren.
​Direktur Utama NU Online, Hamzah Sahal, menyampaikan pesan kuat ini secara langsung. Beliau berbicara dalam acara Silaturahmi Nasional Pelestarian Manuskrip Islam Nusantara (Sesi 2). Acara berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Putri Aris, Kaliwungu, Kendal, Sabtu (23/5/2026). Forum tersebut mengusung tema “Menguatkan Literasi Karya Ulama Nusantara di Era New Media”. Pada momen itu, Hamzah menegaskan bahwa menolak sunyi, upaya NU hidupkan lagi naskah kuno ulama Nusantara di era digital butuh keterlibatan media. Semua elemen NU wajib melibatkan media dalam setiap kegiatan mereka.
​Media Menjadi Sentral Pergerakan
​Hamzah Sahal mengingatkan dampak buruk jika mengabaikan peran media. Tanpa media, perjuangan NU hanya akan berjalan di tempat dan kehilangan dampak luas.
​”Mengapa saya selalu serukan setiap pergerakan atau kegiatan NU harus melibatkan media? Sebab hari ini segala sesuatu dikuasai oleh media. Jika kita tidak ambil peran penting dari pengaruh besar media, kita akan tertinggal dalam banyak hal,” paparnya tegas.
​Ia mencontohkan agenda penyelamatan naskah kuno yang sedang mereka bahas. Tanpa publikasi yang masif, gaung dari upaya besar ini tidak akan pernah sampai ke masyarakat luas.
​”Media menjadi sentral perkembangan juga persaingan. Seperti hari ini, kita membahas naskah kuno para kiai Nusantara. Tanpa kita melibatkan media, serasa pertemuan silaturahmi nasional ini menjadi pergerakan sunyi,” tambah Dirut NU Online tersebut.
​Kekayaan Literasi Pesantren yang Terlupakan
​Selain Hamzah Sahal, diskusi ini juga menghadirkan Lora Ustman Hasan (Ketua Umum Nahdlatut Turats) dan Dr. Ginanjar Syakban (Dosen UNUSIA Jakarta). Ibnu Fikri (Ketua LTN NU MWC Kaliwungu) memandu acara ini sebagai moderator.
​Dalam kesempatan itu, Ibnu Fikri menyoroti kekayaan intelektual berupa manuskrip kuno di berbagai pesantren. Sayangnya, masyarakat belum mengelola warisan ini secara maksimal. Para kiai zaman dulu menulis ratusan naskah kuno tersebut untuk media pembelajaran internal pesantren.
​”Naskah kuno (manuskrip) sebenarnya sangat banyak, apalagi di kalangan pesantren. Karya-karya itu digunakan secara turun-temurun. Santri sering tidak menyadari bahwa itu merupakan jejak sejarah literasi penulis jaman dulu,” ujar Ibnu.
​Tantangan Menggandeng Generasi Muda
​Menutup jalannya diskusi, para narasumber sepakat bahwa digitalisasi membutuhkan regenerasi. Pengurus NU perlu memberikan perhatian khusus untuk menggandeng generasi muda. Anak muda harus ikut serta melestarikan kekayaan literasi masa lampau tersebut.
​Kolaborasi antara media digital dan semangat anak muda akan membawa perubahan besar. Warisan pemikiran ulama Nusantara tidak lagi menjadi pajangan sejarah yang sunyi, melainkan sumber ilmu yang terus hidup. (Anish)
