Foto : Guru karyawan SMP Mutual Kota Magelang berpose foto bersama setelah acara penutupan workshop
Foto : Guru karyawan SMP Mutual Kota Magelang berpose foto bersama setelah acara penutupan workshop

Guru SMP Mutual Magelang Siapkan Pembelajaran Berbasis STEAM dan AI untuk Tahun Ajaran Baru

Magelang, ISR – SMP Muhammadiyah 1 Alternatif (Mutual) Kota Magelang langsung bergerak dinamis menyambut tahun ajaran baru. Mereka menggelar workshop intensif selama tiga hari di Hotel Griya Persada, Yogyakarta. Agenda tahunan ini berlangsung dari Senin hingga Rabu (22-24 Juni 2026). Melalui kegiatan ini, pihak sekolah mematangkan strategi pembelajaran berbasis STEAM dan AI demi mutu pendidikan terbaik.

​Kepala SMP Mutual Kota Magelang, Ahmad Haryanto, mengawal langsung pembekalan tahun ini. Pihaknya sengaja mengarahkan fokus guru pada pembelajaran berbasis STEAM dan AI. Guru mengombinasikan sains, teknologi, teknik, seni, matematika, dan kecerdasan buatan. Kombinasi ini bertujuan agar suasana kelas terasa seru dan tidak kaku bagi generasi digital.

​Membuka Ruang Eksplorasi Siswa

​Ahmad menegaskan bahwa pengelolaan kelas menentukan nyawa pendidikan. Metode mengajar yang monoton akan mematikan kreativitas anak. Guru harus berani meninggalkan pola lama agar siswa bisa berinovasi.

​”Pengalaman siswa adalah harta berharga. Melalui pendekatan ini, kami mengasah siswa menjadi generasi yang adaptif,” tutur Ahmad ramah.

​Workshop ini mengupas tuntas penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Pihak sekolah tidak bermaksud menggantikan peran guru dengan teknologi. Guru memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk menciptakan media belajar interaktif secara mudah.

​Keluar dari Zona Nyaman

​Majelis Dikdasmen PNF PDM Kota Magelang, Edy Sucahyo, mengapresiasi langkah visioner ini. Namun, ia mengingatkan status sekolah unggul tidak boleh membuat guru terlena. Kompetitor di luar sana terus bergerak maju dengan cepat.

​Sekretaris PDM Kota Magelang, Salamun, juga memberikan pesan kuat saat membuka acara. Ia meminta seluruh tim menjaga kekompakan dan menjauhi konflik internal.

​”Pilihan kita hanya dua: berinovasi atau mati perlahan. Kompetitor kita tidak lagi berjalan, melainkan sudah berlari,” tegas Salamun.

​Mengubah Pola Pikir Pendidik

​Koordinator Majelis Dikdasmen, Yatino, menutup sesi pembukaan dengan pesan penting. Keberhasilan workshop ini bukan dari megahnya acara. Penentu utamanya adalah aksi nyata dan perubahan pola pikir guru setelah kegiatan selesai.

​Yatino menilai tantangan terbesar zaman sekarang bukan fasilitas, melainkan mentalitas. Guru yang menolak berkembang akan membahayakan masa depan sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!