Mengapa Kita Harus Mewaspadai Broker Ca-Ketum di Muktamar NU ke-35?
Sejak awal, penulis sengaja menghindari perbincangan mengenai figur ca-ketum maupun ca-rois am dalam perhelatan akbar lima tahunan Nahdlatul Ulama ini. Sebab, ada kekhawatiran mendalam bahwa ambisi politik sedang mengerdilkan esensi luhur Muktamar menjadi sekadar panggung perebutan kekuasaan yang kontraproduktif. Oleh karena itu, sebuah pertanyaan mendasar muncul dan harus kita renungkan bersama: Mengapa kita harus mewaspadai broker ca-ketum di Muktamar NU ke-35?
​Pada dasarnya, jawaban atas pertanyaan tersebut berakar pada tanggung jawab moral sejarah kita. Apalagi, Nahdlatul Ulama akan segera menghadapi era baru peradaban dunia, sehingga kita wajib menjaga kemurnian organisasi ini dari para petualang politik. Oleh sebab itu, seluruh warga jam’iyyah, terutama para Gawagis, harus menumbuhkan kembali kesadaran kolektif bahwa usia NU telah melampaui satu abad. Maka, di usia yang sangat matang ini, kita harus lebih mengutamakan kedewasaan berpikir untuk memelihara kebesaran jam’iyyah, daripada sekadar mempertontonkan syahwat berebut kursi kepemimpinan tertinggi.
​Meneladani Ketawadhuan dan Tangis Para Muassis
​Jika kita membuka kembali lembaran sejarah, para Kyai muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama selalu memberikan teladan yang luar biasa. Bagi mereka, jabatan bukanlah sesuatu yang harus kita kejar, melainkan sebuah beban spiritual yang teramat berat.
​Teladan yang Mulai Terlupakan: KH As’ad Syamsul Arifin, KH. Mahrus Ali, dan KH. Ali Maksum justru tercatat dalam sejarah saling berebut untuk menolak jabatan Rois. Artinya, beliau-beliau sangat takut memikul tanggung jawab di hadapan jamaah. Oleh karena itu, kita semestinya terus mengulang-ulang warisan keluhuran budi ini demi menampar kesadaran generasi penerus.
​Sebab, pengurus PBNU memikul langsung nasib jutaan warga jam’iyyah yang mayoritasnya adalah kaum mustadh’ifin—seperti petani, buruh tani, nelayan, hingga buruh pabrik. Bahkan, di ruang-ruang pabrik dan pesisir pantai, para penguasa modal kerap memperlakukan mereka secara semena-mena.
​Sebenarnya, warga akar rumput ini tidak mengharapkan gelontoran dana materi dari pengurus. Sebaliknya, hal yang paling mereka butuhkan dari kita adalah:
​Kesungguhan struktural untuk menyapa, mendengar, dan memperhatikan nasib mereka.
​Perlindungan nyata yang bisa menjadi sandaran hangat saat mereka menghadapi penindasan.
​Kehadiran nyata NU di tengah-tengah ribuan buruh serabutan yang selama ini merasa sendirian dalam kesepian.
​Peta Zaman yang Berubah dan Ancaman Makelar Politik
​Di sisi lain, peradaban baru kini sedang menjemput kita. Apalagi, transformasi teknologi melesat begitu cepat tanpa bisa kita bendung dengan sekat-sekat tradisional. Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama jelas membutuhkan nahkoda yang piawai, tangkas, dan relevan dalam menghadapi perubahan zaman.
​Namun sayangnya, bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Munas-Kombes Alim Ulama di PP. Al Falah Ploso justru mulai memanas secara tidak sehat. Di sinilah, alasan mengapa kita harus mewaspadai broker ca-ketum di Muktamar NU ke-35 menjadi sangat nyata. Sebab, para makelar politik mulai menggiring opini publik secara sistematis demi mempromosikan kandidat yang sebenarnya tidak memiliki kepantasan moral maupun intelektual.
​Biasanya, kalkulasi pragmatis memicu pergerakan para broker ini. Setelah mereka mengukur diri tidak layak maju sebagai bakal calon, mereka lalu memposisikan diri bermain aman di zona abu-abu demi meraup keuntungan pribadi.
​Secara umum, kita bisa melihat pola gerakan broker ini melalui beberapa ciri:
​Menggunakan Dalih Fiqih untuk Menjilat: Mereka bergerak dengan tameng “la yudroku kulluh, wa la yatruku kulluh” (jika tidak bisa mengambil semua, jangan tinggalkan semua).
​Memanfaatkan Strategi Cek Ombak: Mereka sengaja menggoyang kekuatan petahana yang tangguh dengan memunculkan calon alternatif. Tujuannya, mereka ingin menyisipkan nama sendiri dalam struktur kepengurusan baru atau sekadar menjadi benalu yang menyedot energi organisasi.
​Oleh karena itu, kita wajib mewaspadai para Gawagis yang bermental broker ini. Sebab, mereka menghasilkan daya rusak yang sangat dahsyat dan berpotensi menjauhkan marwah suci jam’iyyah dari keluhuran khittahnya.
​Kalimatul Ikhtitam (Penutup)
​Sebagai penutup, penulis merajut tulisan ini dari ruang imajinasi dan rasa gelisah setelah membaca pemberitaan detikcom mengenai bursa bakal calon ketua umum PBNU. Jujur saja, hati penulis merasa gerah karena ambisi politik praktis mulai mengotori atmosfer Muktamar. Padahal, kita seharusnya bisa menikmati momentum ini dengan prinsip “Nadhrul alim ibadatun” (melihat orang alim itu ibadah).
​Kesimpulannya, NU masa depan tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar fasih menjadi imam masjid atau lihai mencitrakan diri lewat jubah gamis panjang. Begitu juga, kita tidak memerlukan seorang teknokrat yang hanya bermodal deretan titel akademik mentereng.
​Sebaliknya, NU membutuhkan figur pemimpin yang mampu memadukan dua sisi kepentingan menjadi satu kekuatan transformatif yang besar. Ingatlah, Muktamar NU ke-35 adalah titik pijak sejarah baru kita. Maka, jangan sampai kita ceroboh, karena kesalahan memilih pemimpin di masa krusial ini akan membawa dampak fatal bagi masa depan jam’iyyah di kemudian hari.
