Toleransi Sosial di Tengah Perbedaan Ormas: Merdeka Tanpa Sekat
Penulis: Galuh Andi luxmana (Anggota Majlis Tabligh PWM Jawa Tengah)
ISR – Di tengah perdebatan dua organisasi masyarakat yang kerap ramai di media sosial, ada pemandangan sederhana yang justru menarik untuk direnungkan. Di tingkat masyarakat, perbedaan identitas organisasi ternyata tidak selalu menjadi tembok pemisah.
Pagi hari, seseorang bisa mengikuti kegiatan Muhammadiyah. Ia pulang membawa sembako. Pada malam hari, ia menghadiri tahlilan bersama warga Nahdlatul Ulama. Ia pun pulang membawa berkat.
Bagi sebagian orang, pemandangan seperti itu mungkin terlihat membingungkan. Namun bagi masyarakat yang menjalaninya, persoalannya bisa sangat sederhana. Mereka ingin tetap bersosialisasi, mengikuti kegiatan warga, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.
Ini bukan selalu soal oportunisme. Bisa jadi, fenomena tersebut justru menunjukkan cara masyarakat bawah menjalani kehidupan dengan lebih lentur.
Mereka tidak terlalu sibuk memikirkan label. Mereka hadir ketika ada kegiatan sosial. Mereka membantu ketika ada tetangga membutuhkan. Mereka datang ketika mendapat undangan. Setelah itu, kehidupan berjalan seperti biasa.
Perut Tidak Mengenal Label Organisasi
Ada sisi humoris dari fenomena tersebut. Seseorang bisa hadir dalam kegiatan dengan simbol organisasi tertentu, kemudian malamnya mengikuti kegiatan organisasi lain.
Bahkan, ada yang datang ke acara tahlilan dengan mengenakan kaus sekolah Muhammadiyah. Bukan untuk membuat pernyataan politik atau ideologis. Bisa jadi, ia hanya ingin hadir sebagai bagian dari masyarakat.
Kalau kemudian pulang membawa nasi berkat, tentu itu bonus.
Kita sering kali terlalu serius melihat perbedaan identitas. Padahal, masyarakat di tingkat bawah justru menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak harus menghilangkan hubungan sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan ekonomi juga menjadi kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Orang harus bekerja, makan, membiayai anak, dan menjaga hubungan dengan lingkungan.
Karena itu, jangan buru-buru memberikan cap kepada seseorang hanya karena ia menghadiri kegiatan dari dua kelompok yang berbeda.
Belajar dari Keluwesan Masyarakat
Dalam Islam terdapat kaidah al-masyaqqatu tajlibut taisir, yang secara umum bermakna kesulitan mendatangkan kemudahan. Kaidah tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki kondisi yang beragam dan membutuhkan kemudahan sesuai konteksnya.
Tentu, kaidah fikih tidak tepat jika digunakan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya dilarang. Namun, semangat kemudahan dan perhatian terhadap kebutuhan manusia tetap relevan dalam melihat kehidupan sosial.
Yang menarik, masyarakat sering kali sudah mempraktikkan toleransi tanpa banyak teori.
Mereka bisa berbeda pilihan organisasi, tetapi tetap duduk bersama. Mereka bisa berbeda tradisi, tetapi masih saling membantu. Mereka bisa memiliki simbol yang berbeda, tetapi tetap menjadi tetangga.
Di sinilah toleransi sosial menemukan bentuknya yang paling sederhana: tidak memaksa orang lain menjadi sama dengan kita.
Merdeka dari Fanatisme Berlebihan
Perbedaan organisasi seharusnya tidak membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk saling menghormati. Identitas boleh berbeda. Tradisi boleh beragam. Cara memahami persoalan juga bisa tidak sama.
Namun, hubungan kemanusiaan tetap membutuhkan ruang bersama.
Mungkin sudah saatnya kita belajar dari masyarakat yang tidak terlalu sibuk mempertentangkan label. Mereka tahu kapan harus berdiskusi dan kapan cukup saling menghormati.
Mereka juga mengajarkan bahwa hidup berdampingan tidak berarti harus menyeragamkan keyakinan dan tradisi. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk memberi ruang kepada orang lain.
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga bisa berarti bebas dari fanatisme yang membuat kita sulit melihat manusia di balik sebuah identitas.
Dan jika pada akhirnya seseorang pulang membawa sembako atau nasi berkat, biarkan saja. Yang penting, ia pulang membawa sesuatu yang lebih besar: hubungan sosial yang tetap terjaga.
Sebab terkadang, masyarakat justru mengajarkan toleransi dengan cara yang sangat sederhana: berbeda pilihan, tetapi tetap makan bersama.
