Mengembalikan Tradisi Lama NU: Menjaga Kemandirian dan Marwah Jam’iyyah Menyongsong Muktamar NU ke-35

Penulis: KH. Munib Abd Muchith Wk. Katib PWNU jateng

Semarang, ISR – Nahdlatul ulama dipenghujung abad Ke 1 memang sangat berat rasanya, era reformasi setelah semua kran kebebasan di buka, transformasi global merubah segalanya, keterbukaan ini menjadikan serapan informasi yang tidak terbatas, bahkan kentut yang ditengah kerumunan dapat terpantau.

Kebebasan yang tidak terbendung ini menjadikan kebenaran diukur dengan opini publik, maka sikap hati hati sangat dekedepan bukan sekedar hitam putih, salah benar tanpa dipikir dampak dan efek, tentunya kematangan spiritualitas akan sangat dibutuhkan.

Di abad ini orang menyebutnya Zaman Kalabendu (atau Kolobendu) adalah masa kegelapan, penderitaan, dan kekacauan sosial-politik dalam tradisi Jawa, berasal dari kata “kala” (waktu/zaman) dan “bendu” (kutukan/hukuman), di mana tatanan masyarakat rusak, moral merosot, pemimpin jahat, rakyat miskin sengsara, dan sering terjadi bencana.

Maka, Muktamar ke 35 yang akan datang menjadi media instropeksi bersama kesadaran untuk lebih waspada (tidak mudah menerima bantuan yang tidak jelas)dan menjauhi praktek2 culas, curang, manipulasi, riswah yang dampak nya akan menodai kesakralan Nahdlatul Ulama.

Menjaga jarak penguasa

Terjadinya hiruk pikuk pada Nahdlatul Ulama, bukan membuat kendor para Muhibbin termasuk penulis, justru kejadian yang menjadi kan kelemahan nahdlatul ulama bukan ainiyyah tetapi pengurus nya yang akhir akhir ini menjadi sorotan publik sehingga imbasnya nahdlatul ulama yang menjadi bullyan.

Seperti prilaku para putra putri kyai atau sekolompok gus yang ngeneh anehi dengan gaya hidup melebihi selebritis, atau eksekutif muda yang penuh lagak dan sok ( dengan protokoler bak pejabat tinggi negara). Begitu pula gaya hidonism yang di perlihatkan dan menjadi pola hidup keseharian.

Prilaku, yang membuat eneg bagi sebagian orang yang menghendaki aksi bukan sekedar eksistensi, tidak lagi menjadikan simpatik warganya, pola ini seperti para priyayi yang pada waktu era Orde Baru dan Orde keemasannya membangun kasta karena keturunan, bukan ke ilmuan dan tanggung jawabnya. Kebesarannya hanya sekedar kamuflase atau karena brending semata.

Prilaku ini mendorong seseorang akan cenderung berebut kue dari penguasa, seperti :

1. Mengelola MBG adalah janji politik, tentunya serat dengan nilai politis dan jebakan politik )sekedar mendapatkan keuntungan tanpa menghitung keamanan dan memberi manfaat terhadap warga.

2. Menerima konsesi tambang, dengan hitungan margen untung besar untuk pembiayaan roda organisasi, pertanyaannya selama ini tanpa ada konsesi tambang NU tidak jalan.

3. Melakukan kerja kerja EO kepada pemerintah baik pusat atau daerah, buka program kerja jam’iyyah, yang akan serat dengan proyek yang manipulatif.

4. Berebut Menteri, jabatan tertentu atau Komisioner, Komisaris BUMN BUMD.

Menjaga Kemandirian

Pada era Orde Baru kaum tradisional yang diwakili oleh para santri, cenderung diabaikan atau dimarjinalkan, tetapi ketekunan dalam membina Ummat dengan penuh kesederhanaan tidak mudah di tumbangkan, bahkan menelurkan tokoh nasional yang disegani menjadi panutan, porsi untuk akses finansial ( APBN/APBD) tidak mampu ditembus, sekedar insentif, tetapi kemampuan untuk mengkonsolidasi mengkoordisi warga tidak mampu ditiru oleh organisasi lainnya, menggerakkan ruh dan mampu menjadikan kader kader militan.

Dalam kondisi termarjinal, dengan berbagai macam keterbatasan bukan berarti berhenti berkhidmah, justru menumbuhkan kemandirian tanpa harus menjual kebesaran organisasi dengan oligarki, atau sekedar Anggaran yang tidak seberapa dengan berbagai macam tuntutan dan tekanan, sehingga pembelaan terhadap warga tidak akan maksimal, bahkan bersuara untuk mengkritisi kebijakan tidak akan ada dari mulutnya kebebasannya terpasung.

Kalimatul Ikhtitam

Melangitkan kembali kemandirian jam’iyyah sangatlah penting agar niatan berkhidmah mendedikasikan diri terhadap Nahdlatul Ulama tidak ternodai dengan para petualang politik, yang sekedar menjadi Nahdlatul Ulama sebagai tunggangan untuk mencapai tujuan duniawiyah.

Dengan penuh rasa galau yang menyelimuti hati tulisan ini sekedar menjadi media menuangan uneg-uneg biar tidak menjadi udun semat.

 

 

 

KH. Munib Abd Muchith Wk. Katib PWNU jaten

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!