MELURUSKAN ESENSI MUKTAMAR
Memasuki abad kedua Nahdhatul Ulama, tantangan terasa semakin berat. Kondisinya seperti mendayung melawan arus atau mengarungi samudra di tengah badai. Namun, keadaan ini tidak boleh membuat putus asa. Ijtihad dan jihad untuk mencari jalan terbaik tetap menjadi keharusan.
Para ulama dan kyai menggagas jam’iyyah ini sebagai wadah yang unik. NU menampung berbagai perbedaan, lalu menyatukannya dalam satu organisasi besar. NU berafiliasi pada empat madzhab (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali) dengan aqidah ahlussunah wal jamaah. Tradisi yang tidak bertentangan dengan aqidah tetap dilestarikan di tengah warga Nahdliyyin.
NU memiliki tata kelola yang fleksibel. Aturan organisasi tidak kaku, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai demokrasi, bukan monarki atau bentuk lain.
Merawat NU sejalan dengan menguatkan NKRI. Indonesia memiliki ribuan pulau, suku, dan bahasa. Menyatukannya bukan perkara mudah. Meski begitu, Indonesia hampir satu abad mampu bertahan. Karena itu, peran kyai dan ulama sangat penting untuk menjaga keutuhan NKRI melalui otoritas moralnya.
Menakar Pemimpin NU yang Ideal
Mencari pemimpin ideal ibarat mencari burung gagak putih. Kesempurnaan sulit ditemukan. Karena itu, memilih yang terbaik dari berbagai kebaikan menjadi langkah yang lebih bijaksana.
Kita perlu menakar pemimpin sesuai kebutuhan zaman. Pemimpin NU bukan hanya seorang kyai, tetapi juga panutan dan simbol keteladanan.
Di tengah dinamika global, NU membutuhkan pemimpin yang memahami geopolitik. Ia harus memiliki wawasan luas dan mampu membaca peta strategis dunia. Dengan begitu, ia bisa memberi pengaruh pada pemimpin formal maupun informal.
Kemampuan memimpin organisasi juga sangat penting. Popularitas saja tidak cukup. Keluwesan kepemimpinan biasanya terbentuk dari beberapa hal:
Kader berjenjang. Pengalaman panjang dalam organisasi membentuk ketahanan dan kemampuan menghadapi tantangan.
Kader istiqomah. Kesabaran dan keikhlasan melahirkan kebijaksanaan serta sikap tidak mudah menyerah.
Kader independen. Kemampuan lahir dari proses, bukan karena garis keturunan, dorongan nitizen, atau kepentingan oligarki.
Tulisan ini bersifat subyektif dan lahir dari pengalaman selama menjadi pengurus NU. Ini merupakan konklusi dari perjalanan bersama para masyayikh dalam mengemban amanah.
Namun, pembahasan tentang pemimpin tidak boleh mengaburkan esensi Muktamar. Masih ada hal yang lebih krusial dibanding sekadar memilih ketua umum atau rois am.
Meluruskan Esensi Muktamar
Muktamar ke-35 memicu perhatian luas. Media ramai menilai kelayakan calon ketua umum dan rois am. Bahkan, masa lalu dan kehidupan pribadi ikut dikorek.
Perhelatan lima tahunan ini merupakan forum konstitusional NU. Beberapa pihak melihatnya sebagai peluang politik. Mereka memanfaatkan momentum pemilihan ketua umum untuk membangun pengaruh. Akibatnya, perdebatan sering melebar ke hal yang tidak produktif.
Kondisi ini perlu disikapi dengan bijak. Seluruh fungsionaris NU harus fokus pada program kerja, capaian masa khidmat, dan isu geopolitik. Pembelaan terhadap warga Nahdliyyin—petani, nelayan, dan buruh—jauh lebih penting.
Pemilihan ketua umum hanyalah proses menentukan siapa yang memegang amanah. Karena itu, perdebatan berlebihan tentang figur justru menjadi ironi dalam jam’iyyah NU.
Kalimatul Ikhtitam
Muktamar NU adalah agenda rutin lima tahunan. Kegiatan ini akan terus berlangsung selama NU berdiri di NKRI.
Akan lebih produktif jika Muktamar dijadikan ajang evaluasi, perencanaan, dan penguatan program kerja.
Membicarakan calon ketua umum dan rois am secara berlebihan justru kontra produktif. (Munib Abd Muchit)
