Tren Penyalahgunaan Narkoba Meningkat, BNN Kendal Ungkap Modus Jaringan Pengedar
KENDAL, ISR – Hasil pengukuran prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia tahun 2025 menunjukkan tren yang makin mengkhawatirkan. Data kolaborasi Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan penyalahgunaan di berbagai kelompok masyarakat.
Ketua Tim Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNN Kendal, Sapto, mengimbau masyarakat agar waspada terhadap modus jaringan pengedar narkoba, khususnya di wilayah Kendal.
“Pengguna narkoba biasanya mencari teman. Pengedar memberi narkoba gratis terlebih dulu untuk menimbulkan ketergantungan. Setelah korban candu, mereka mulai menjualnya,” tegas Sapto.
Kenaikan pada Laki-laki dan Perempuan
Data infografis prevalensi menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Pada kelompok laki-laki, prevalensi kategori setahun pakai naik menjadi 2,55 persen. Sementara kategori pernah pakai mencapai 3,77 persen.
Pada kelompok perempuan, angka penyalahgunaan juga meningkat di wilayah perkotaan dan perdesaan. Prevalensi setahun pakai tercatat 1,07 persen. Lonjakan tertinggi muncul pada usia produktif 15–24 tahun dan 25–49 tahun, mencakup usia sekolah hingga usia kerja.
Isu Strategis Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Sapto menegaskan, penyalahgunaan narkoba kini menjadi isu strategis nasional. Pemerintah menjadikannya program prioritas untuk mendukung visi Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045.
BNN melakukan pengukuran prevalensi secara berkala sebagai dasar kebijakan berbasis data agar pencegahan dan penanganan lebih tepat sasaran.
Menurut Sapto, kekuatan lingkungan sosial menjadi kunci utama memutus mata rantai peredaran narkoba.
“Kita harus memperkuat lingkungan. Dengan pemahaman yang benar tentang bahaya narkotika, masyarakat bisa mencegah secara mandiri dan bersama-sama,” pungkasnya.
