Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan kepada siswa di Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, menjadi sorotan setelah ditemukan ulat selama dua hari berturut-turut.
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan kepada siswa di Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, menjadi sorotan setelah ditemukan ulat selama dua hari berturut-turut.

Menu MBG Penjalin Dua Hari Berturut-turut Ditemukan Ulat, Sekolah Desak Evaluasi Menyeluruh

KENDAL, ISR – Menu MBG yang didistribusikan kepada siswa di Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, menjadi sorotan setelah ditemukan ulat selama dua hari berturut-turut. Temuan tersebut memicu perhatian karena berkaitan langsung dengan keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Paket makanan itu dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Persyada Al-Haromain yang melayani distribusi makanan untuk wilayah Desa Penjalin dan sekitarnya. Kejadian yang berulang mendorong pihak sekolah meminta evaluasi menyeluruh agar kualitas makanan tetap terjaga.

Temuan Ulat Terjadi Selama Dua Hari

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ulat pertama kali ditemukan pada distribusi makanan di awal pekan. Awalnya, kejadian tersebut diduga sebagai insiden yang bersifat insidental.

Namun, pada distribusi hari berikutnya, ulat kembali ditemukan pada lauk maupun sayuran di dalam paket Menu MBG. Temuan berulang itu membuat pihak sekolah semakin memberi perhatian terhadap kualitas makanan yang diterima siswa.

Beberapa siswa dilaporkan memilih tidak menghabiskan makanan karena merasa khawatir setelah mengetahui adanya temuan tersebut.

Sekolah Minta Pengawasan Diperketat

Guru MA dan MTS Sabilunnajah, Syahril Sidiq, menilai kejadian tersebut merupakan persoalan serius yang harus segera menjadi bahan evaluasi penyelenggara program.

Menurutnya, seluruh tahapan penyediaan makanan perlu diperiksa kembali, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi kepada penerima manfaat.

“Ini merupakan kesalahan yang fatal. Apalagi terjadi selama dua hari berturut-turut. Artinya, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengadaan bahan, pengolahan, hingga distribusi makanan. Program MBG memiliki tujuan yang sangat baik untuk meningkatkan gizi anak-anak, sehingga kualitas dan keamanan pangan harus benar-benar menjadi prioritas,” tegas Syahril.

Ia berharap penyelenggara segera melakukan pembenahan sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang dan kepercayaan terhadap program tetap terjaga.

SOP Kebersihan Perlu Dievaluasi

Insiden tersebut juga menimbulkan perhatian terhadap penerapan standar operasional prosedur (SOP) kebersihan di dapur penyedia makanan.

Selain itu, proses pencucian bahan baku, pengolahan makanan, hingga sistem pengendalian mutu (quality control) perlu diperkuat. Dengan demikian, setiap makanan yang didistribusikan benar-benar memenuhi standar keamanan pangan sebelum sampai ke tangan siswa.

Diharapkan Ada Klarifikasi Resmi

Pihak sekolah berharap instansi yang membidangi Program Makan Bergizi Gratis bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal segera melakukan pemeriksaan terhadap dapur penyedia makanan. Langkah tersebut penting untuk memastikan seluruh proses produksi berjalan sesuai standar keamanan pangan.

Hingga berita ini ditulis, pihak SPPG Yayasan Persyada Al-Haromain belum memberikan klarifikasi resmi terkait temuan ulat pada menu MBG.

Sekolah berharap penyelenggara segera menyampaikan penjelasan secara terbuka sekaligus melakukan langkah perbaikan yang nyata. Dengan begitu, Program Makan Bergizi Gratis dapat terus berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik dengan makanan yang aman, sehat, dan layak dikonsumsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!