Katanya Doa Bersama dan Jangan Hura-Hura, Kok Malah New Palapa? Publik Pertanyakan Logika Pemkab Kendal
KENDAL, ISR – Imbauan pemerintah daerah dan Kapolres Kendal agar masyarakat merayakan malam pergantian tahun dengan sederhana dan penuh doa kini menuai sorotan tajam. Pasalnya, di tengah seruan pengendalian euforia dan empati terhadap korban bencana, justru digelar konser dangdut berskala besar dengan menghadirkan grup ternama New Palapa.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: apakah ini bentuk doa bersama, atau sekadar hiburan yang dibungkus narasi religius?
Warganet ramai-ramai mempertanyakan konsistensi kebijakan tersebut. Banyak yang menilai pemerintah daerah dan aparat terkesan tidak satu suara antara imbauan moral dan praktik di lapangan.
“Katanya doa bersama, tapi yang diundang malah grup dangdut. Ini doa versi hura-hura?” tulis seorang warga dalam kolom komentar yang viral di media sosial.
Komentar bernada satir hingga kritik tajam pun bermunculan. Ada yang menyebut acara tersebut sebagai “konser berkedok doa”, bahkan menilai pesan empati kepada korban bencana menjadi kehilangan makna karena dibalut hiburan yang identik dengan euforia massal.
“Kalau memang mau doa, kenapa bukan istigasah atau doa lintas agama? Kenapa harus panggung musik?” tulis warganet lain.
Kondisi ini memunculkan kesan adanya standar ganda dalam kebijakan publik. Di satu sisi, masyarakat diimbau menahan diri, tidak berpesta, dan menjaga suasana duka nasional. Namun di sisi lain, pemerintah justru memfasilitasi hiburan yang berpotensi menimbulkan keramaian dan kegaduhan.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak penyelenggara maupun pemerintah daerah terkait alasan digelarnya konser tersebut di tengah imbauan perayaan sederhana. Publik pun bertanya-tanya: apakah ini bentuk inkonsistensi kebijakan, atau sekadar kegagalan membaca sensitivitas masyarakat?
