Jakarta Turun 17 Cm per Tahun, Kapan Kota Ini Tenggelam?
Jakarta, ISR – Fenomena Jakarta Turun 17 Cm per Tahun semakin menjadi perhatian para peneliti dan pengamat perkotaan. Data dari pemantauan satelit dan GPS menunjukkan bahwa beberapa wilayah pesisir utara Jakarta mengalami penurunan tanah yang sangat cepat, bahkan mencapai 15 hingga 25 sentimeter setiap tahun.
Para peneliti menggunakan rata-rata Jakarta Turun 17 Cm per Tahun untuk menggambarkan kondisi di wilayah yang paling parah. Pengamat perkotaan Ronaldo P. menilai bahwa penurunan tanah ini menjadi ancaman serius bagi masa depan Jakarta sebagai kota pesisir besar.
Penurunan Tanah Terjadi Cepat di Pesisir Jakarta
Banyak orang mengira kenaikan permukaan air laut menjadi penyebab utama ancaman tenggelamnya Jakarta. Namun berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa penurunan tanah memainkan peran yang jauh lebih besar.
Wilayah pesisir utara Jakarta menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah. Di beberapa titik, permukaan tanah turun hingga puluhan sentimeter setiap tahun.
Pengambilan Air Tanah Jadi Penyebab Utama
Pengambilan air tanah secara berlebihan menjadi salah satu penyebab terbesar penurunan tanah di Jakarta. Rumah tangga, gedung perkantoran, dan industri memompa air tanah setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air.
Aktivitas ini membuat lapisan tanah kehilangan tekanan alami yang selama ini menahannya. Akibatnya struktur tanah perlahan mengempis dan permukaan kota ikut turun.
Penurunan Tanah Lebih Cepat dari Kenaikan Laut
Penurunan tanah di Jakarta bahkan terjadi lebih cepat dibandingkan kenaikan permukaan laut global. Kondisi ini membuat wilayah pesisir Jakarta semakin rentan terhadap banjir rob dan genangan air laut.
Karena alasan tersebut, banyak penelitian internasional memasukkan Jakarta sebagai salah satu kota dengan penurunan tanah tercepat di dunia.
Pemindahan Ibu Kota Jadi Salah Satu Solusi
Masalah lingkungan yang kompleks di Jakarta juga mendorong pemerintah Indonesia untuk memindahkan ibu kota negara. Pemerintah mengumumkan rencana tersebut pada tahun 2019 dan memilih membangun ibu kota baru di Nusantara, Kalimantan Timur, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Selain penurunan tanah, pemerintah juga mempertimbangkan faktor lain seperti polusi dan kepadatan penduduk yang semakin tinggi di Jakarta.
Fenomena yang Terjadi di Banyak Kota Dunia
Jakarta sebenarnya tidak menghadapi masalah ini sendirian. Penelitian tentang fenomena sinking cities juga mencatat beberapa kota lain seperti Bangkok, Manila, Miami, dan Alexandria yang mengalami penurunan tanah serupa.
Para peneliti menilai bahwa pengendalian penggunaan air tanah, penyediaan jaringan air bersih, serta perencanaan kota yang berkelanjutan dapat membantu memperlambat penurunan tanah. Tanpa langkah serius, kota-kota pesisir di berbagai negara berpotensi menghadapi ancaman yang sama di masa depan.
