Tempe yang dibungkus plastik sebagai wadah fermentasi oleh pengusaha tempe di Kendal.
Tempe yang dibungkus plastik sebagai wadah fermentasi oleh pengusaha tempe di Kendal.

Harga Plastik Naik, Pengusaha Tempe Menjerit

KENDAL, ISR – Harga plastik naik membuat pelaku usaha kecil menengah mulai tertekan. Kondisi ini langsung terasa di kalangan produsen tempe yang bergantung pada plastik sebagai bahan utama pembungkus. Harga plastik naik dalam beberapa pekan terakhir mendorong biaya produksi meningkat, sehingga pelaku usaha harus mencari cara agar tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Maftuhin, pengusaha tempe asal Kendal, merasakan dampak tersebut secara langsung. Ia mengaku pusing tujuh keliling menghadapi lonjakan harga plastik yang terus terjadi. Setiap hari, ia memproduksi tempe dalam jumlah cukup banyak, dan seluruh prosesnya membutuhkan plastik sebagai wadah fermentasi.

Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan

Maftuhin tidak tinggal diam menghadapi kondisi ini. Ia langsung memutar otak untuk menjaga usahanya tetap berjalan. Ia menahan diri untuk tidak menaikkan harga tempe karena khawatir pelanggan akan beralih ke penjual lain.

Sebagai langkah alternatif, ia memilih mengecilkan ukuran tempe yang dijual. Menurutnya, strategi ini menjadi jalan tengah agar biaya produksi tetap tertutup tanpa harus membebani konsumen dengan harga yang lebih tinggi.

“Kalau saya naikkan harga, pembeli bisa kabur. Jadi saya kecilkan ukuran saja,” ujar Maftuhin.

Ia menyadari keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Beberapa pelanggan mulai mempertanyakan ukuran tempe yang berubah. Namun, sebagian besar masih bisa memahami kondisi yang terjadi karena kenaikan harga bahan pendukung sudah menjadi isu umum.

Ketergantungan pada Plastik

Usaha tempe yang dijalankan Maftuhin sangat bergantung pada plastik. Ia menggunakan plastik untuk membungkus kedelai yang sudah difermentasi agar proses pembentukan tempe berjalan optimal. Tanpa plastik, ia kesulitan menjaga kualitas dan kebersihan produk.

Kenaikan harga plastik langsung menambah beban biaya produksi. Selain itu, harga bahan lain seperti kedelai juga sering mengalami fluktuasi. Kondisi ini membuat pelaku usaha kecil harus menghadapi tekanan dari berbagai sisi sekaligus.

Maftuhin mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan strategi produksi. Ia juga mencoba menghemat penggunaan plastik, meski langkah tersebut tidak bisa sepenuhnya menutup kenaikan biaya.

Harapan Pelaku Usaha Kecil

Maftuhin berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Ia ingin harga plastik kembali stabil agar pelaku usaha kecil bisa bernapas lega. Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada pelaku UMKM yang terdampak langsung oleh kenaikan bahan baku.

Menurutnya, pelaku usaha kecil seperti dirinya berada di posisi yang paling rentan. Mereka harus menyesuaikan harga, menjaga kualitas, sekaligus mempertahankan pelanggan dalam situasi yang tidak menentu.

“Kami ini usaha kecil, jadi sangat terasa kalau ada kenaikan seperti ini. Harapannya ada solusi supaya kami bisa terus produksi,” katanya.

Kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga menekan usaha rakyat seperti produsen tempe. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga tempe di pasaran ikut mengalami kenaikan. Para pelaku usaha kini hanya bisa berharap kondisi segera membaik agar roda ekonomi kecil tetap bergerak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!