Gosip RK dan Aura Kasih Lebih Viral dari Kayu Gelondongan, Pengalihan Isu yang Disengaja?
ISR – Media sosial kembali bergolak. Gosip yang menyeret nama Ridwan Kamil (RK) dan Aura Kasih mendadak menjadi santapan utama publik. Trending, dibahas berulang, dan menyita perhatian nasional. Namun di balik hiruk-pikuk itu, muncul kegelisahan publik: apakah negara benar-benar abai, atau justru ada upaya menutup isu yang lebih besar?
Sebab di waktu yang hampir bersamaan, persoalan kayu gelondongan yang hanyut di sungai, dugaan pembalakan liar, serta kerusakan hutan justru minim sorotan. Padahal dampaknya nyata dan langsung dirasakan masyarakat—banjir, longsor, hingga rusaknya sumber penghidupan warga.
Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar soal kelalaian. Apakah mungkin isu skandal ini berfungsi sebagai pengalih perhatian?
Secara resmi, pemerintah tentu tidak bisa serta-merta disebut lalai. Namun publik berhak curiga ketika isu lingkungan yang menyangkut tata kelola sumber daya alam nyaris tak terdengar, sementara gosip personal justru mendominasi ruang publik. Keheningan negara terhadap isu kayu gelondongan justru memperkuat spekulasi.
Di sisi lain, netizen juga tak sepenuhnya bebas dari kritik. Ketertarikan berlebihan pada isu sensasional membuat ruang diskusi publik semakin dangkal. Algoritma media sosial memperparah keadaan, karena konflik personal dan gosip terbukti lebih cepat menaikkan engagement dibanding isu kebijakan atau lingkungan.
Namun negara memiliki tanggung jawab lebih besar. Jika memang tidak ada yang ditutup-tutupi, mengapa penanganan dan komunikasi soal kayu gelondongan tidak disampaikan secara terbuka dan masif? Ketika pemerintah memilih diam, ruang spekulasi pun terbuka lebar.
Kayu gelondongan bukan isu sepele. Ia berkaitan langsung dengan illegal logging, lemahnya pengawasan hutan, dan potensi kejahatan terorganisir. Menutup atau membiarkannya tenggelam sama artinya membiarkan kerusakan lingkungan berlanjut tanpa kontrol publik.
Ironisnya, publik sering disalahkan karena tidak peduli, sementara negara jarang dievaluasi karena kurang transparan. Jika pemerintah serius, maka isu lingkungan seharusnya menjadi prioritas komunikasi publik, bukan justru kalah oleh gosip selebritas.
Artikel ini tidak menuduh. Namun juga tidak menutup mata. Dalam demokrasi, kecurigaan publik adalah hal wajar ketika informasi penting tak disampaikan secara jelas. Karena jika gosip bisa viral secara nasional, isu kayu gelondongan seharusnya bisa lebih keras gaungnya—kecuali memang ada yang sengaja diredam.
Pada akhirnya, pertanyaannya kembali ke kita semua: apakah publik yang terlalu mudah dialihkan, atau negara yang terlalu nyaman membiarkan isu besar tenggelam?
