Menu MBG berupa kemplang, manggis, telur, dan kacang.

MBG di Bulan Ramadhan Tuai Kritik, Menu Diduga Tak Sesuai Anggaran

ISR – MBG di bulan Ramadhan kembali menuai kritik di sejumlah daerah. Sekolah menerima distribusi makanan pada siang hari saat siswa menjalankan ibadah puasa. Kondisi ini memicu pertanyaan dari guru dan wali murid karena waktu pembagian dinilai kurang tepat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa. Namun, pelaksanaan MBG di bulan Ramadhan memerlukan penyesuaian teknis agar tetap relevan dengan situasi puasa. Sekolah berharap pengelola mengatur ulang jadwal distribusi, misalnya menjelang waktu berbuka atau dibawa pulang sebagai paket takjil.

Selain waktu distribusi, kualitas menu juga memicu sorotan. Salah satu guru MA di Jawa Tengah, Umi Kholisoh, meminta pengelola segera membenahi sistem dan standar makanan.

“Kami menerima kiriman dua hari MBG di bulan Ramadhan ini, tetapi menunya tidak sesuai harapan. Tolong niat sedikitlah SPPG-nya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada hari kedua siswa hanya menerima kemplang, manggit, telur, dan kacang. Ia memperkirakan nilai makanan tersebut sekitar tujuh ribu rupiah. Sementara itu, publik mengetahui anggaran program mencapai Rp15.000 per porsi. Perbedaan angka tersebut memunculkan pertanyaan tentang transparansi dan pengawasan anggaran.

Pemerintah menggulirkan MBG sebagai bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kualitas gizi generasi muda. Karena itu, pengelola perlu menjaga kualitas bahan makanan, memperhatikan variasi menu, dan memastikan nilai gizi terpenuhi.

Sekolah juga mendorong penguatan fungsi SPPG sebagai dapur penyedia makanan. Pengelola harus menyusun standar menu yang jelas, menghitung komposisi gizi secara terukur, serta membuka informasi anggaran secara transparan. Dengan langkah tersebut, MBG di bulan Ramadhan dapat berjalan efektif tanpa mengurangi esensi ibadah puasa siswa.

Program ini memiliki tujuan besar. Namun, pelaksana di lapangan harus menjaga konsistensi, kualitas, dan integritas agar manfaatnya benar-benar dirasakan siswa di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!