Mengejutkan! Al-Qur’an Sebut Setan Juga Berasal dari Manusia

ISR – Selama ini, banyak masyarakat memahami setan semata-mata sebagai makhluk gaib dari golongan jin. Padahal, dalam pandangan Islam, pemaknaan tersebut dinilai terlalu sempit dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman teologis.

Dalam Al-Qur’an, setan tidak hanya merujuk pada jin jahat, melainkan juga sifat dan karakter buruk yang melekat pada makhluk hidup, termasuk manusia. Setan digambarkan sebagai keadaan atau watak yang membangkang, ingkar, suka berdusta, menyesatkan, menebar permusuhan, mengajak kepada kemungkaran, serta melawan kebenaran.

Dengan kata lain, setan adalah sebutan bagi setiap makhluk yang berperilaku jahat, baik dari golongan jin maupun manusia.

Al-Qur’an secara tegas menyebut keberadaan “setan dari manusia” dalam Surah Al-An’am ayat 112:

“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipu daya…”

Ayat ini menegaskan bahwa kejahatan tidak selalu datang dalam bentuk makhluk gaib. Manusia pun bisa menjadi setan, ketika perilaku dan tindakannya menyesatkan, memanipulasi kebenaran, serta merusak tatanan sosial.

Setan dan Fenomena Sosial Modern

Dalam konteks kekinian, sifat-sifat setan kerap tercermin dalam praktik adu domba, penyebaran hoaks, manipulasi opini publik, hingga propaganda politik yang menghalalkan dusta demi kepentingan kekuasaan. Fenomena buzzer politik yang menyebarkan fitnah dan narasi menyesatkan demi bayaran kerap disebut sebagai contoh nyata “setan berwajah manusia”.

Kritik sosial semacam ini bahkan telah lama digaungkan oleh seniman dan budayawan. Musisi legendaris Iwan Fals dalam lagu Sumbang menyindir keras perilaku tersebut lewat bait:

“Setan-setan politik yang datang mencekik, Walau di masa paceklik tetap mencekik…”

Lirik tersebut menggambarkan bagaimana keserakahan dan kebohongan dapat menjelma menjadi kekuatan yang menindas rakyat, terutama di saat kondisi sosial dan ekonomi sedang sulit.

Refleksi Moral

Pemahaman ini menjadi pengingat bahwa melawan setan tidak cukup dengan sekadar menghindari hal-hal gaib, tetapi juga melawan sifat setan dalam diri sendiri dan lingkungan sosial. Kejujuran, keadilan, dan keberpihakan pada kebenaran menjadi benteng utama agar manusia tidak terjerumus menjadi “setan” bagi sesamanya.

Dengan demikian, setan bukan sekadar sosok tak kasat mata, melainkan cermin dari perilaku jahat yang nyata di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!