Tambang Galian C di Kendal: Elite Untung, Rakyat Menanggung Dampak
Kendal, ISR – Tambang galian C di Kendal terus menuai sorotan karena hanya menguntungkan segelintir elite, sementara masyarakat kecil menanggung dampaknya. Aktivitas tambang galian C di Kendal tersebar di Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Brangsong, Ngampel, Weleri, Pegandon, hingga Pageruyung dan memicu keluhan warga setiap hari.
Warga merasakan langsung dampaknya. Debu beterbangan dan mengganggu pernapasan. Truk bermuatan berat melintasi jalan desa dan merusaknya. Para pengendara harus ekstra hati-hati karena jalan berlubang dan licin. Saat musim hujan datang, air meluap lebih cepat dan tanah rawan longsor karena area resapan berkurang.
Masyarakat menyampaikan keluhan secara langsung maupun melalui media sosial. Mereka meminta pemerintah daerah bertindak tegas dan melindungi lingkungan. Namun jawaban yang sering muncul dari akun resmi Bupati Kendal menyebut bahwa tambang menjadi kewenangan provinsi.
Jawaban itu terasa normatif dan berulang. Banyak warga menilai pemerintah kabupaten seolah melempar tanggung jawab. Padahal persoalan terjadi di wilayah Kendal dan warga Kendal yang merasakan dampaknya. Kepemimpinan menuntut keberanian bersuara dan membela kepentingan rakyat, bukan sekadar menjelaskan batas kewenangan administratif.
Menurut Kyai Jauhari, Sekretaris LP2NU (Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama), pengelolaan sumber daya alam harus mengedepankan keadilan dan kemaslahatan. Ia menegaskan bahwa alam merupakan amanah yang harus dijaga bersama. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak membiarkan praktik yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat.
“Kekayaan alam harus menghadirkan kesejahteraan bersama. Jika tambang hanya menghadirkan debu, jalan rusak, dan ancaman bencana, maka kita harus berani mengevaluasinya,” tegasnya.
Pemerintah kabupaten tetap bisa berkoordinasi dengan provinsi, mengirimkan rekomendasi, dan memperjuangkan aspirasi warga. Langkah aktif itu menunjukkan keberpihakan nyata. Masyarakat hanya ingin udara bersih, jalan yang layak, dan rasa aman dari ancaman longsor serta banjir.
Jika tambang terus berjalan tanpa pengawasan ketat dan keberanian sikap, masyarakat akan semakin kehilangan kepercayaan. Kendal membutuhkan pembangunan yang adil, bukan pembangunan yang meninggalkan luka ekologis dan sosial.
