Kemacetan di jalan Weleri–Sukorejo terjadi akibat truk pengangkut material tambang galian C di Sumur Pitu Pageruyung yang mogok di badan jalan sehingga menghambat arus lalu lintas.
Kemacetan di jalan Weleri–Sukorejo terjadi akibat truk pengangkut material tambang galian C di Sumur Pitu Pageruyung yang mogok di badan jalan sehingga menghambat arus lalu lintas.

Tambang Galian C di Sumur Pitu Pageruyung Picu Keluhan Warga

Tambang galian C di Sumur Pitu Pageruyung picu keluhan warga Sukorejo karena dampaknya mulai terasa di sejumlah wilayah Kabupaten Kendal. Aktivitas penambangan yang terus berlangsung membuat warga khawatir terhadap kondisi lingkungan serta keselamatan para pengguna jalan.

Keberadaan tambang galian C di Sumur Pitu Pageruyung juga memengaruhi kondisi jalan Weleri–Sukorejo. Saat hujan turun, air mengalir deras dari kawasan atas menuju badan jalan sehingga jalan terlihat seperti air terjun. Selain itu, gerimis saja sudah membuat permukaan jalan menjadi licin dan berbahaya bagi pengendara.

Jalan Weleri–Sukorejo Berbahaya Saat Hujan

Nanang, warga Sukorejo yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk bekerja di Weleri, mengaku kondisi jalan semakin berisiko. Ia hampir setiap hari melewati jalur itu saat berangkat dan pulang kerja.

“Sekarang kalau hujan deras sedikit saja, jalan Weleri–Sukorejo seperti air terjun. Kalau hanya gerimis, jalan langsung licin dan membahayakan pengendara,” kata Nanang.

Nanang juga menambahkan, lalu lintas truk pengangkut material tambang sering menimbulkan persoalan lain di jalur tersebut. Menurutnya, truk yang mogok di tanjakan atau di badan jalan kerap memicu kemacetan panjang karena jalur itu tidak terlalu lebar.

“Kalau ada truk galian yang mogok, jalan langsung macet karena kendaraan sulit lewat. Selain itu, saat musim kemarau debu dari truk tambang juga sangat mengganggu pengendara motor,” tambahnya.

Aktivis Minta Pemkab Kendal Bertindak

Nanang berharap Pemerintah Kabupaten Kendal segera mengambil langkah nyata agar kondisi tersebut tidak menimbulkan kecelakaan bagi pengguna jalan.

Sementara itu, aktivis tambang Mutohar menilai pemerintah daerah sebenarnya dapat menyelesaikan persoalan tersebut dengan cepat. Ia menegaskan pemerintah hanya perlu memperketat pengawasan terhadap aktivitas tambang dan memperbaiki sistem drainase di sekitar lokasi.

“Masalah ini sebenarnya sederhana jika Pemkab Kendal serius menangani. Namun selama ini pemerintah terlihat membiarkan kondisi tersebut,” ujar Mutohar.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kendal segera melakukan evaluasi terhadap aktivitas tambang di wilayah Pageruyung dan menata kembali jalur drainase agar air tidak langsung mengalir ke badan jalan. Dengan langkah cepat, pemerintah dapat mengurangi risiko kecelakaan sekaligus meredakan keresahan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!