Takbiran Jadi Media Protes, Warga Tunggulsari Angkat Isu Galian C
Warga Desa Tunggulsari menggelar takbir keliling untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan penuh semangat kebersamaan. Dalam kegiatan ini, warga juga menjadikan takbiran jadi media protes untuk menyuarakan isu galian C yang hingga kini belum jelas statusnya. Mereka memulai kegiatan dari lapangan sepak bola dan melanjutkan hingga balai desa sambil mengumandangkan takbir.
Kepala Desa Tunggulsari, Abdul Khamid, menegaskan bahwa kegiatan ini memperkuat silaturahmi antarwarga. Ia mengajak seluruh peserta menjaga ketertiban agar acara berjalan lancar. Sementara itu, Ketua Karang Taruna, Ghufron, mendorong generasi muda untuk aktif berpartisipasi dan menjaga kekompakan selama kegiatan berlangsung.
Warga RW 3 menghadirkan miniatur ekskavator sebagai bentuk kreativitas sekaligus simbol aspirasi. Ketua RW 3, Bonang, menjelaskan bahwa takbiran jadi media protes yang mereka pilih untuk menyampaikan penolakan terhadap aktivitas galian C. Ia menilai status izin usaha pertambangan (IUP) di Desa Tunggulsari masih belum jelas.
Bonang menegaskan bahwa warga akan terus menyuarakan penolakan dengan cara damai dan kreatif. Ia menyebut momen Idul Fitri sebagai waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan kepada publik luas. Menurutnya, warga tidak ingin tinggal diam ketika kebijakan menyangkut lingkungan dan kehidupan mereka.
Samsul, peserta dari Masjid Baitussyakirin, Samsul, mengaku antusias mengikuti kegiatan ini. Ia merasakan kebersamaan yang kuat sekaligus melihat bagaimana warga menyampaikan aspirasi secara positif.
Panitia mengatur rute perjalanan dengan tertib dan memastikan keamanan peserta. Warga di sepanjang jalan ikut menyambut rombongan dengan antusias. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan di desa mereka.
