Kendal Baik-Baik Saja, Kata Siapa? Sindiran Ini Bikin Merinding

KENDAL, ISR – Sebuah unggahan bernada satire dari Andi Gunawan di grup Facebook Info Wong Sukorejo mendadak menyedot perhatian warganet. Lewat gaya bahasa halus namun menusuk, ia “memuji” Kabupaten Kendal sebagai daerah yang konon aman dari bencana banjir—tentu dengan catatan sinis: selama hutannya masih hijau dan belum diolah.

Unggahan tersebut membandingkan kondisi Kendal dengan sejumlah wilayah lain yang tengah dilanda kekhawatiran kerusakan lingkungan, seperti Aceh Tamiang dan Banyumas. Namun, pujian itu terasa pahit, karena dibalut sindiran yang jelas mengarah pada ancaman deforestasi dan alih fungsi lahan di Kendal sendiri.

Aman, Tapi Hanya di Atas Narasi

Dengan nada sarkastik, Andi menyebut Kendal masih “tenang” karena memiliki kawasan resapan dari hulu Gunung Prau hingga wilayah Siboli dan Selokaton. Ia menggambarkan seolah warga Kendal tak perlu cemas, berbeda dengan daerah lain yang sudah lebih dulu merasakan dampak eksploitasi alam.

  • Banyumas & Gunung Slamet
    Saat warga Banyumas resah akibat aktivitas tambang dan PLTU di sekitar Gunung Slamet, Andi menyindir warga Kendal masih bisa “bernapas lega” karena merasa hutan Gunung Prau aman—meski realitanya mulai tergerus aktivitas manusia.
  • Pekalongan vs Lereng Prau
    Ketika masyarakat Petungkriyono, Pekalongan, dibuat waswas oleh alih fungsi puluhan hektare hutan menjadi ladang kentang, Andi menyebut lereng Prau tetap hijau. Namun ia menambahkan kalimat pamungkas yang menusuk: “kalau sedang tidak diolah.”
  • Benteng Alam Surokonto
    Di saat Bupati Batang mulai mengkaji ulang alih fungsi lahan di lereng selatan, warga Kendal—menurut Andi—masih bisa “selonjoran santai”, yakin benteng alam Surokonto masih kokoh melindungi mereka.

Sungai Meluap? Tenang, Ngopi Dulu

Sindiran tak berhenti di kawasan hutan. Andi juga menyinggung potensi luapan sungai besar seperti Kali Blukar dan Kali Mati di wilayah Weleri. Meski hujan badai mengguyur, ia menyindir warga tetap santai ngopi karena percaya luapan air “paling cuma menggenang di sawah”, sebab hutan di sekitar Gebangan masih ditanami tanaman pangan.

Syukur yang Menampar

Unggahan itu ditutup dengan nada “bersyukur” atas alam Kendal yang disebut lestari berkat kolaborasi masyarakat dan pemerintah. Namun pesan sesungguhnya justru terlihat dari foto yang dilampirkan: perbukitan gundul dan gersang di Kecamatan Gemuh pada Oktober 2023.

Foto tersebut menjadi tamparan keras atas narasi “Kendal baik-baik saja”. Sindiran Andi Gunawan seolah mengingatkan, bahwa rasa aman semu bisa menjadi awal dari bencana nyata—jika kerusakan alam terus dianggap hal biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!