Fatal! Kenali Gejala Angin Duduk Sopir yang Menimpa Pengemudi di Kendal
KENDAL, ISR – Kematian mendadak menimpa Rohmad Hidayat (51) di RS Darul Istiqomah Kendal, Senin (11/5), usai mengalami gejala nyeri perut akut di tengah perjalanan kerjanya melintasi jalur lingkar Kaliwungu. Peristiwa tragis ini menjadi peringatan keras bagi para pengemudi jarak jauh mengenai pentingnya mengenali sinyal bahaya pada tubuh saat kelelahan.
​Peristiwa ini bermula saat korban, pria asal Megamendung, Bogor tersebut, tengah beristirahat di Rumah Makan (RM) Sakinah, Jalur Arteri Kaliwungu, Desa Kebonadem, Brangsong. Sekira pukul 23.00 WIB, Rohmad mulai merasakan gangguan kesehatan yang signifikan secara tiba-tiba.
​Kronologi Gejala Angin Duduk Sopir
​Rohmad mengeluh sakit luar biasa pada bagian perut atas kepada anak kandungnya, Moh Faizal, yang saat itu berada di lokasi. Sebagai upaya pertolongan pertama yang umum di masyarakat, korban sempat meminta bantuan fisik untuk meredakan nyeri tersebut agar bisa kembali melanjutkan perjalanan.
​”Korban mengeluh sakit di bagian perut atas selanjutnya minta dikerok punggungnya oleh anaknya,” kata salah seorang warga.
Namun, tindakan tradisional itu ternyata tidak memberikan perubahan positif pada kondisi kesehatan korban yang kian menurun.
​Melihat kondisi yang tak kunjung membaik, pihak keluarga segera mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat menggunakan kendaraan yang ada.
“Korban sekira jam 23.45 WIB dibawa oleh saksi I ke RS Darul Istiqomah untuk mendapatkan perawatan oleh medis,” lanjut warga tersebut.
​Penanganan Medis di RS Darul Istiqomah
​Tim medis Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Darul Istiqomah segera memberikan tindakan darurat setibanya korban di rumah sakit. Sayangnya, nyawa pengemudi paruh baya tersebut tidak tertolong. Pihak rumah sakit menyatakan korban meninggal dunia pada Selasa dini hari sekira pukul 01.00 WIB.
​Berdasarkan pemeriksaan awal, tim dokter memastikan bahwa penyebab kematian murni karena faktor kesehatan.
“Dari IGD RS Darul Istiqomah menyimpulkan bahwa hasil pemeriksaan medis awal tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan,” tegas warga tersebut.
​Keputusan Keluarga dan Pemulangan Jenazah
​Pihak keluarga, termasuk anak kandung dan rekan sesama sopir, menerima kejadian ini sebagai musibah yang tak terelakkan. Mereka memilih untuk tidak melanjutkan proses penyelidikan lebih lanjut melalui prosedur bedah mayat atau autopsi kepada pihak kepolisian.
​”Keluarga korban sudah mengikhlaskan kematian korban dan menyatakan menolak untuk dilakukan autopsi,” kata warga di tempat kejadian. Penolakan ini diperkuat dengan keinginan keluarga untuk segera memulangkan almarhum ke kampung halaman.
​Saat ini, jenazah telah diberangkatkan menuju Kp. Cijeruk, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Ambulans RS Darul Istiqomah memberikan pengawalan untuk mengantarkan jenazah agar dapat segera dimakamkan oleh pihak keluarga besar di Jawa Barat.
Ini menjadi penting untuk mengetahui gejala angin duduk sopir sejak dini.
