Galian C Menggila, Warga Menderita: Ke Mana Lari Uang Tambang Kendal?

KENDAL, ISR – Pernyataan tegas Mahfud MD soal kekayaan tambang Indonesia kembali menggema di tengah polemik maraknya tambang galian C di Kabupaten Kendal. Ia menyebut, jika sektor pertambangan dikelola secara jujur dan bebas korupsi, setiap warga Indonesia bisa memperoleh penghasilan hingga Rp. 20 juta per bulan tanpa harus bekerja keras.

Namun realitas di lapangan justru berbanding terbalik.

Di Kendal, aktivitas tambang galian C terus menuai sorotan publik. Kerusakan lingkungan, jalan rusak, debu tebal, hingga ancaman keselamatan warga menjadi pemandangan sehari-hari.

Ironisnya, manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar nyaris tak sebanding dengan dampak yang mereka tanggung.

Banyak warga mempertanyakan: ke mana sebenarnya keuntungan tambang itu mengalir?

Jika benar tambang menjadi sumber kemakmuran, mengapa desa-desa di sekitar lokasi justru tertinggal, rusak, dan penuh keluhan?

Kondisi ini semakin kontras jika melihat data Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) Kabupaten Kendal tahun 2025. Dari target sebesar Rp. 5,6 miliar, realisasi hingga saat ini baru mencapai sekitar Rp. 1,84 miliar, atau sekitar 32,88 persen. Angka tersebut dinilai jauh dari ideal, mengingat masifnya aktivitas tambang di berbagai wilayah.

Rendahnya realisasi ini memunculkan dugaan kuat adanya kebocoran, lemahnya pengawasan, serta praktik tambang yang tidak tertib perizinan maupun pelaporan.

Pernyataan Mahfud MD pun terasa seperti tamparan keras bagi tata kelola tambang di daerah. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kekayaan alam, melainkan pada korupsi, pembiaran, dan lemahnya penegakan hukum.

“Kalau dikelola dengan benar, tidak mungkin rakyat menderita di atas tanah yang kaya,” tegas Mahfud.

Kini publik menuntut langkah nyata. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan instansi terkait didesak untuk membuka data, menertibkan tambang bermasalah, serta memastikan pendapatan daerah benar-benar masuk kas negara, bukan bocor di tengah jalan.

Jika tidak, tambang yang seharusnya menjadi berkah akan terus berubah menjadi sumber kerusakan, konflik, dan ketidakadilan bagi masyarakat Kendal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!