Ansor dan Banser Brangsong Sowan Kiai NU, Perkuat Khidmah dan Soliditas Kader
Brangsong — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Brangsong menggelar kegiatan sowan silaturahmi ke para kiai NU pada Rabu malam Kamis (25/3/2026) pukul 20.00 WIB. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara kader Ansor dengan para ulama sekaligus memperkuat nilai-nilai khidmah dalam organisasi.
Kegiatan ini diikuti oleh jajaran Pimpinan Ranting (PR) serta Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se-Kecamatan Brangsong.
Ketua PAC GP Ansor Brangsong, Ahmad Aspuri, menyampaikan bahwa kegiatan sowan ini merupakan bagian dari tradisi organisasi dalam menjaga adab, memperkuat sanad keilmuan, serta memohon nasihat dari para kiai sebagai pembimbing perjuangan.

Rangkaian sowan diawali dengan kunjungan ke Ketua Tanfidziyah MWC NU Brangsong, KH Nur Hamid. Dalam kesempatan tersebut, beliau berpesan agar kader Ansor senantiasa menjaga keikhlasan dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama (NU) serta tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan utama.
Kegiatan kemudian dilanjutkan ke kediaman KH Mandzur Labib, selaku Wakil Ketua PW NU Jawa Tengah dan Pengasuh Pondok Pesantren Sabilunnajah Penjalin. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, beliau menyampaikan berbagai pesan penting yang menjadi bekal bagi kader Ansor.
Menurutnya, Ansor memiliki peran strategis sebagai generasi penerus, sebagaimana pepatah Arab “Syubbanul yaum rijalul ghod” yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ia menegaskan bahwa khidmah di NU harus dilandasi keikhlasan, bukan ambisi jabatan.
“Parameter di NU adalah khidmah, bukan jabatan. Yang paling mulia adalah mereka yang banyak waktunya digunakan untuk mengurusi NU,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa NU merupakan organisasi yang luwes dan inklusif, menaungi seluruh lapisan usia. Mulai dari pelajar di IPNU-IPPNU, pemuda di Ansor dan Fatayat, hingga kalangan dewasa di NU dan Muslimat.
Dalam kesempatan tersebut, KH Mandzur Labib juga mengulas filosofi khas GP Ansor dalam penggunaan sapaan “sahabat” bagi sesama kader. Menurutnya, sahabat memiliki makna lebih dalam dibanding sekadar teman, karena hadir dalam setiap kondisi, baik suka maupun duka.
“Panggilan sahabat adalah panggilan yang ideal. Bahkan Nabi Muhammad menyebut pengikutnya sebagai sahabat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya ketepatan dalam penyebutan struktur organisasi di lingkungan NU. Istilah “pengurus” digunakan dalam struktur NU, sedangkan “pimpinan” digunakan pada badan otonom seperti GP Ansor. Sementara itu, penyebutan “ketua umum” hanya berlaku di tingkat pusat.
Selain itu, ia menegaskan bahwa dalam berkhidmah, kader tidak perlu khawatir terhadap urusan duniawi. Allah akan mencukupi kebutuhan, bukan sekadar memenuhi keinginan.
“Sebagai kader Ansor, apapun profesinya, jangan khawatir. Allah pasti mencukupi kebutuhan kita,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan satu prinsip penting, bahwa keberadaan kader adalah untuk NU, bukan sebaliknya. “Kita yang butuh NU, bukan NU yang butuh kita,” tegasnya.

Rangkaian sowan kemudian dilanjutkan ke Rois Syuriah MWC NU Brangsong, KH Muhaimin, yang turut memberikan pesan dan harapan agar kader Ansor dan Banser terus menjaga semangat kebersamaan, keikhlasan, serta konsistensi dalam berkhidmah di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh kader GP Ansor dan Banser Kecamatan Brangsong semakin solid, istiqamah, serta mampu menjadi generasi penerus yang tidak hanya kuat secara organisasi, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial dalam mengabdi kepada agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
