Tambang Galian C Tunggulsari: Filosofi Kaos Merah di Balik Keteguhan Sikap Warga
Kendal — Suasana di Desa Tunggulsari perlahan memasuki babak baru pascaaksi unjuk rasa besar-besaran yang sempat digelar oleh ratusan warga setempat. Guna meredam tensi yang memanas, perwakilan pihak perusahaan akhirnya turun ke lapangan untuk menemui perwakilan warga secara langsung dalam sebuah forum dialog terbuka.
Langkah taktis yang diambil oleh manajemen CV Pratama Putra Widjaya ini bertujuan untuk membuka ruang komunikasi yang tersumbat. Kehadiran mereka di tengah situasi hangat ini diharapkan mampu meredam polemik rencana tambang Galian C Tunggulsari yang terus mendapat perlawanan sengit dari masyarakat di akar rumput.
Manajemen Minta Maaf Terkait Kisruh di Desa
Dalam pertemuan yang berlangsung kondusif tersebut, Wisnu, selaku perwakilan dari CV Pratama Putra Widjaya, membuka obrolan dengan nada meredam. Pihaknya dengan berjiwa besar menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan kegaduhan yang terjadi selama proses rencana penambangan ini berjalan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan selama ini. Dan saya mohon petunjuk serta arahan,” ujar Wisnu di hadapan perwakilan warga yang menyimak dengan saksama.
Senada dengan Wisnu, Cahyo yang juga mewakili pihak manajemen menegaskan bahwa kehadiran mereka hari itu murni untuk menjalin silaturahmi sekaligus menyerap aspirasi murni dari warga pascademo, untuk kemudian dilaporkan ke jajaran direksi pusat.
“Apapun bentuk sikap dari warga, langsung saya sampaikan ke pimpinan. Kami hanya menjembatani. Intinya kami datang ke sini untuk silaturahmi,” tutur Cahyo.
Merah Membara, Simbol Kaos “Tunggulsari Tolak Galian C” Jadi Bukti Keteguhan
Meski utusan perusahaan datang dengan sikap yang santun, hal itu ternyata tidak sedikit pun menggoyahkan komitmen warga. Ada pemandangan mencolok yang dihadirkan di dalam ruang pertemuan malam itu. Ruang dialog sengit tersebut tampak dipenuhi oleh warna merah menyala dari kaos seragam yang dikenakan oleh perwakilan pemuda dan warga.
Samsul, Ketua KNPI Brangsong yang juga merupakan warga asli Tunggulsari, menjelaskan bahwa kehadiran mereka dengan atribut khusus ini bukanlah kebetulan. Kaos tersebut sengaja dipakai untuk menunjukkan ketegasan sikap di hadapan para penambang yang datang.
“Teman-teman malam ini bertemu dengan penambang untuk menyampaikan penolakan dengan memakai kaos warna merah dan tulisan ‘Tunggulsari Tolak Galian C’. Itu merupakan simbol sekaligus bukti nyata keteguhan kami dalam menolak tambang,” tegas Samsul.
Uniknya, gerakan ini lahir murni dari bawah. Ratusan kaos merah tersebut diproduksi secara kilat dari hasil iuran mandiri yang dikumpulkan oleh warga yang berbondong-bondong menyumbang.
“Malam ini kita pakai bersama-sama sebagai pesan visual yang kuat bahwa warga tidak bisa dipecah belah,” tambah Samsul.
Pemuda Terharu dan Apresiasi Kekompakan Warga
Solidaritas tinggi yang ditunjukkan oleh warga lewat simbol kaos merah ini memantik rasa haru sekaligus bangga dari para tokoh pemuda setempat. Ketua Karang Taruna Desa Tunggulsari, Ghufron, mengaku sangat mengapresiasi militansi yang ditunjukkan oleh lintas generasi di desanya.
“Saya sangat terharu dan mengapresiasi semangat yang tak pernah luntur, serta kekompakan luar biasa dari seluruh warga dalam menolak rencana tambang Galian C Tunggulsari ini,” ungkap Ghufron dengan penuh emosional.
Pertemuan pascademo yang dikepung oleh “barisan kaos merah” ini akhirnya berakhir tanpa kesepakatan bagi pihak korporasi. Seluruh aspirasi warga pun diketahui telah dituangkan secara legal melalui mekanisme Musyawarah Desa (Musdes) yang menolak mutlak aktivitas tambang. Warga Desa Tunggulsari tetap berdiri kokoh pada sikap mereka bahwa ruang hidup, kelestarian lingkungan, dan sawah produktif tidak bisa ditukar dengan materi.
