Ilustrasi reaktualisasi makna ngadep dampar di tengah fenomena “inflasi kyai” dan “inflasi pesantren”, antara krisis moralitas, formalitas pendidikan, serta harapan lahirnya tradisi keilmuan santri yang beradab, kritis, dan transformatif.
Ilustrasi reaktualisasi makna ngadep dampar di tengah fenomena “inflasi kyai” dan “inflasi pesantren”, antara krisis moralitas, formalitas pendidikan, serta harapan lahirnya tradisi keilmuan santri yang beradab, kritis, dan transformatif.

Inflasi Kyai, Inflasi Pesantren

Penulis: KH. Munib Abd Muchit

Jakarta — Fenomena inflasi kyai dan inflasi pesantren kini menjadi tantangan nyata dunia pendidikan Islam di Indonesia. Ketika semua berlomba mendirikan pesantren, persaingan tidak sehat pun muncul. Sesama santri saling menjatuhkan, bahkan berebut pengaruh dan murid. Di sinilah awal kegaduhan bermula, bersumber dari penyakit hati bernama hasud.

Masih terngiang wejangan para pengasuh pesantren setiap melepas santri menjelang kelulusan: “Di rumah, jangan tinggalkan ngadep dampar.” Secara substansi, pesan itu berarti jangan tinggalkan mutholah, karena ilmu adalah cahaya dan ruh kehidupan. Namun sebagian santri memaknainya sebagai perintah mendirikan pesantren atau mengaji di hadapan jamaah.

Pesantren di Bawah Kendali Regulasi

Maraknya kasus asusila dan kekerasan di lembaga pendidikan tertua Indonesia ini menjadi ironi tersendiri. Pesantren, yang dahulu menjadi pusat pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah, kini bergerak dalam arah berbeda. Setelah kran reformasi terbuka, pesantren makin agresif berkembang. Dawuh kyai soal ngadep dampar berubah menjadi motivasi mendirikan pesantren, didukung kemudahan fasilitas dari negara melalui Kemendiknas dan Kemenag.

Akibatnya, pesantren kini lebih banyak dikendalikan oleh regulasi kementerian. Otonomi pengasuh menyusut. Orientasi bergeser dari kedalaman ilmu dan tempaan riyadhoh menuju pemenuhan formalitas kelulusan semata.

Reaktualisasi Makna Ngadep Dampar

Para simbah kyai dengan kewaskitaan mereka menyimpan makna mendalam di balik dawuh ngadep dampar. Dalam kondisi inflasi kyai dan inflasi pesantren saat ini, reaktualisasi makna itu menjadi mendesak. Santri tidak boleh kehilangan arah ketika mengucap al adabu fauqol ilmi — adab lebih utama dari ilmu. Santri harus mengedepankan adab, bukan sekadar kepandaian menguasai ilmu.

Di negeri yang riuh menyebut nama Tuhan, agama hadir di mana-mana. Bukan hanya di rumah ibadah, tetapi di semua sektor kehidupan, bahkan di panggung politik. Namun ilmu agama miskin daya ubah.

Maka ngadep dampar bukan sekadar mengajar, melainkan bagaimana nilai-nilai ajaran dari dampar itu teraktualisasi dalam setiap aspek kehidupan. Santri perlu didorong menjadi pemikir, sebagaimana pada masa keemasan Islam abad ke-8 hingga ke-10 yang melahirkan Al-Ghazali, Ar-Razi, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Biruni. Mereka besar bukan karena ngadep jamaah, melainkan karena ngadep dampar dalam arti yang sesungguhnya.

Buah ilmu sejati bukan retorika monolog di depan jamaah, melainkan kontekstualisasi keilmuan untuk menjawab tantangan peradaban modern, dari disiplin ilmu sosial, tafsir, hadis, fikih, hingga sains dan teknologi.

Sekedar Membangun Fisik

Penguasaan ilmu agama seharusnya menjadi penyuluh dan agen transformasi peradaban. Namun yang terjadi justru sebaliknya: ilmu agama menjadi alat kapitalisasi. Benjamin M. Friedman pernah mencatat bahwa kapitalisme modern tidak lahir sepenuhnya dari ruang sekuler. Perkembangan ekonomi modern justru dimulai dari perubahan cara memaknai hidup, dipicu pergulatan teologis yang menjadikan kerja sebagai panggilan moral dan kemajuan sebagai tanggung jawab.

Faktanya, para pemangku agama lebih sibuk membangun rumah ibadah dan pemondokan santri. Tradisi keilmuan berupa riset dan perubahan sosial justru terabaikan. Keagungan Tuhan terus dilafazkan, tetapi korupsi dibiarkan merajalela.

Pesantren pun kehilangan daya tawar. Berlomba membangun gedung dengan dana hibah pemerintah, daya kritis terhadap negara ikut melemah. Ketika agama kehilangan daya kritis, ia berubah menjadi jinak dan penurut, tetapi lumpuh menghadapi ketimpangan sosial, kerakusan, dan kerusakan moral. Para santri sekadar menjadi agen biro umrah dan ziarah, bukan agen perubahan peradaban.

Mengembalikan Kepercayaan Publik

Persoalan hari ini bukan soal kurangnya stok kyai atau pesantren. Masalahnya adalah terlalu lama terjebak dalam penafsiran sempit atas ngadep dampar, sehingga kyai dan alumni pesantren terpenjara dalam makna ngaji semata.

Yang menjadi akar masalah adalah anggapan bahwa ilmu bermanfaat hanya ketika mampu mengumpulkan jamaah dan menghipnotisnya. Kapling surga seolah sudah di depan mata, lalu berbagai cara pun dihalalkan.

Tantangan nyata yang harus dihadapi hari ini adalah mengembalikan kepercayaan publik dan membentengi kemurnian kyai serta pesantren yang telah lama diobok-obok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!