Siswa kelas VII SMP Darul Muqorrobin saat mengikuti outing class di Lawang Sewu Immersive Semarang sebagai bagian pembelajaran kokurikuler.

Outing Class Kelas VII SMP Darul Muqorrobin: Wisata Belajar Lawang Sewu Immersive dan Ziarah

Semarang, 27–28 Januari 2026 — Outing class kelas VII SMP Darul Muqorrobin berlangsung selama dua hari dengan sistem bergantian. Siswa putra mengikuti kegiatan pada Selasa, sedangkan siswi pada Rabu. Sekolah memulai kegiatan sejak pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Rombongan mengunjungi Lawang Sewu Semarang melalui program Lawang Sewu Immersive. Setelah itu, peserta melanjutkan kegiatan ziarah ke makam Habib Hasan bin Yahya bin Thoha atau Mbah Kramat Jati Semarang.

Wisata Belajar Berbasis Pengalaman Langsung

Sekolah merancang outing class kelas VII SMP Darul Muqorrobin sebagai program kokurikuler berbasis pengalaman langsung. Lawang Sewu Immersive menyajikan materi sejarah, budaya, seni, dan ilmu pengetahuan. Peserta didik dapat memahami pelajaran secara lebih nyata dan kontekstual.

Peserta mengamati koleksi secara langsung. Mereka belajar menafsirkan nilai sejarah dan kebudayaan bangsa. Kegiatan ini mendorong siswa berpikir kritis dan reflektif sejak dini.

Kegiatan Terstruktur dan Terintegrasi Pembelajaran

Guru menyusun outing class ini secara terstruktur. Peserta didik melakukan pengamatan terarah dan mencatat informasi penting. Mereka juga berdiskusi dalam kelompok kecil.

Setelah kegiatan, siswa menyusun laporan hasil kunjungan. Proses ini melatih kemampuan literasi, komunikasi, dan kolaborasi. Pembelajaran tidak berhenti pada kunjungan, tetapi berlanjut di kelas.

Penguatan Karakter dan Keterampilan Sosial

Outing class juga melatih keterampilan sosial dan emosional peserta didik. Siswa belajar beradaptasi di lingkungan baru. Mereka berinteraksi secara santun dengan narasumber dan masyarakat sekitar.

Kegiatan di luar kelas ini meningkatkan motivasi belajar. Siswa mampu mengaitkan teori pelajaran dengan kehidupan sehari-hari secara langsung.

Mendukung Kurikulum Merdeka

Sekolah menilai outing class ke museum penting sebagai bagian program kokurikuler. Kegiatan ini mendukung pembelajaran holistik, menyenangkan, dan bermakna. Sekolah juga menyesuaikan program dengan tujuan pendidikan nasional dan semangat Kurikulum Merdeka.

Penjelasan Ketua Panitia

Ketua Panitia Outing Class Kelas VII, Siti Aliyah Fakhomah, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa sekolah pertama kali menerapkan sistem bergantian berdasarkan gender.

“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar untuk kelas VII,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekolah akan melanjutkan outing class kelas VIII pekan depan. Tujuan kegiatan selanjutnya adalah Kali Kesek dan sentra pembuatan gula aren. Kelas IX akan menyusul pada minggu berikutnya.

Tujuan dan Manfaat Outing Class

Sekolah menyelenggarakan outing class untuk memperkuat pemahaman materi pelajaran. Kegiatan ini melatih kemampuan berpikir kritis dan literasi informasi. Peserta didik juga belajar menghargai sejarah dan budaya bangsa.

Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh siswa. Mereka mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan. Rasa cinta terhadap warisan budaya pun tumbuh sejak dini.

Lady Aisyah, siswi kelas VII asal Batam, mengaku merasa lelah namun bahagia mengikuti kegiatan bersama teman-temannya. Febrizio, siswa asal Jakarta, juga merasakan hal serupa. Ia menilai outing class ini sebagai pengalaman belajar sambil berwisata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!