Lesbumi Kendal Apresiasi Lakon “Air Mata Dupa” Karya Ahmad Sofyan Hadi
Kendal, ISR – Lesbumi Kendal apresiasi lakon “Air Mata Dupa” karya Ahmad Sofyan Hadi yang dipentaskan dalam gelaran Parade Teater #9 Kendal oleh Teater Atmosfer Kendal, Sabtu (24/1/2026), di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Pementasan ini didukung oleh sejumlah komunitas seni dan menghadirkan refleksi kebudayaan tentang ritus, dukun, dan ekologi dalam kehidupan masyarakat.
Ketua Lesbumi PCNU Kendal, Muslichin, hadir sebagai pembicara sekaligus penanggap dalam pertunjukan tersebut. Dalam ulasannya, ia mengutip pernyataan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengenai pentingnya kebudayaan sebagai jati diri bangsa.
“Kebudayaan adalah identitas suatu bangsa. Negara hadir dalam kebudayaan yang berbasis sejarah, melindungi budaya dari gerusan budaya asing, serta menolak kebudayaan asing yang merusak bangsa,” ujar Muslichin.
Lebih lanjut, Muslichin menyoroti tema ritus, dukun, dan sesaji dalam perspektif ekologi yang diangkat dalam lakon tersebut. Menurutnya, makna dukun dalam budaya Jawa mengalami pergeseran dan penyempitan di era modern.
“Dukun di masa lalu adalah sebutan profesi, seperti dukun bayi, dukun urut, hingga tabib pengobatan tradisional. Namun saat ini istilah dukun sering kali distigmakan negatif dan hanya dikaitkan dengan praktik-praktik yang dianggap berbahaya,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan dukun tetap merupakan bagian dari kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. “Selama tidak saling mengganggu, kita harus saling menghormati karena itu bagian dari perjalanan budaya dan kehidupan sosial kita,” tambahnya.
Sementara itu, Ahmad Sofyan Hadi, selaku penulis naskah sekaligus sutradara dan Wakil Ketua Lesbumi Kendal Bidang Seni Teater, menyampaikan bahwa pementasan ini bertujuan mengubah stigma negatif terhadap sosok dukun.
“Melalui pementasan Air Mata Dupa, saya ingin menyampaikan pesan agar masyarakat tidak lagi mendeskreditkan status dukun. Ada sisi lain seperti tabib yang ahli meramu obat tradisional yang justru memiliki peran penting,” kata Ahmad Sofyan Hadi.
Lakon Air Mata Dupa diperankan oleh sejumlah seniman muda Kendal, salah satunya Aftonil, Ketua DKAC CBP Kangkung sekaligus Wakil Ketua PC IPNU Kendal Bidang Olahraga dan Seni. Pertunjukan ini mengisahkan seorang tabib ahli obat tradisional yang difitnah sebagai dukun santet akibat kesalahpahaman, hingga akhirnya dikucilkan oleh warga.
Melalui pementasan tersebut, Parade Teater #9 Kendal menjadi ruang ekspresi seni sekaligus media refleksi sosial tentang pentingnya memahami kembali makna budaya dan kearifan lokal yang kerap tergerus stigma negatif. (Anis)
