Heboh!! Pemkot Semarang Incar Sampah Kendal
Semarang, ISR – Ambisi Pemerintah Kota Semarang mengubah sampah menjadi energi listrik mulai memasuki fase krusial. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Jatibarang terus dimatangkan, namun di balik kesiapan infrastruktur, muncul satu persoalan mendasar: sampahnya belum cukup.
Sebagai langkah awal menuju PSEL, Pemkot Semarang tengah mengakhiri praktik open dumping dan beralih ke sistem sanitary landfill. Sistem ini menutup setiap tumpukan sampah dengan lapisan tanah secara berkala agar pembusukan berlangsung lebih cepat dan ramah lingkungan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyebut transformasi ini menjadi kunci agar Semarang keluar dari status pelanggaran pengelolaan sampah.
“Sampah yang masuk langsung ditutup tanah. Dari lima zona di TPA Jatibarang, tiga zona sudah selesai, satu dalam proses, dan satu masih aktif. Target kami akhir 2025 zona keempat tuntas, sehingga 2026 Semarang bebas dari status pelanggaran,” ujar Agustina, Rabu (17/12/2025).
Namun persoalan muncul saat proyek PSEL memasuki tahap teknis. Skema pendanaan melalui Danantara mensyaratkan pasokan minimal 1.300 ton sampah per hari. Sementara itu, kemampuan faktual Kota Semarang saat ini baru mencapai sekitar 800 ton per hari.
Penutupan sejumlah TPA liar diperkirakan dapat mendongkrak volume hingga 1.100 ton per hari, tetapi angka tersebut masih belum memenuhi syarat. Artinya, proyek listrik dari sampah berpotensi tersendat bila pasokan tak terpenuhi.
Di sinilah opsi kerja sama regional mengemuka. Agustina secara terbuka menyebut Kabupaten Semarang, Kendal, dan Demak sebagai daerah penyangga yang diharapkan ikut menyuplai sampah.
“Kekurangan ini harus ditutup dari kabupaten lain. Kami berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bisa memfasilitasi penggabungan agar PSEL tetap berjalan,” tegasnya.
Situasi ini memunculkan ironi baru. Di saat banyak daerah berjuang mengurangi sampah, Semarang justru membutuhkan tambahan sampah agar proyek energi listriknya bisa beroperasi. Kerja sama lintas daerah pun menjadi penentu: apakah PSEL akan benar-benar menjadi solusi masa depan, atau sekadar ambisi yang tersendat di tengah jalan.
