Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tahu Kendal Harap Pemerintah Bertindak
Kendal – Harga kedelai naik dalam beberapa waktu terakhir semakin menekan pelaku usaha kecil, khususnya pengrajin tahu dan tempe. Lonjakan harga bahan baku utama ini membuat para pelaku UMKM harus memutar otak agar usaha mereka tetap berjalan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Di Kabupaten Kendal, harga kedelai naik turut dirasakan oleh Hidayatullah, seorang pelaku UMKM tahu asal Blora yang kini menjalankan usahanya di wilayah Brangsong. Ia mengaku kondisi ini sangat memberatkan karena kedelai merupakan bahan utama dalam produksi tahu yang tidak bisa digantikan.
Dampak Harga Kedelai Naik bagi UMKM
Menurut Hidayatullah, sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Namun kini, harga tersebut melonjak menjadi di atas Rp10.000 bahkan lebih di pasaran. Kenaikan ini tentu berdampak langsung terhadap biaya produksi yang harus ia tanggung setiap harinya.
“Kalau harga tahu dinaikkan, nanti masyarakat mengeluh. Tapi kalau tidak dinaikkan, kami yang tidak kuat menanggung biaya produksi,” ujarnya saat ditemui di tempat usahanya.
Hidayatullah: Pengusaha Tahu di Tengah Tekanan Biaya Produksi
Ia menjelaskan bahwa posisi pelaku usaha kecil saat ini sangat dilematis. Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat akibat mahalnya bahan baku. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, sehingga kenaikan harga jual berisiko membuat pelanggan berkurang.
Strategi Bertahan: Mengecilkan Ukuran Tahu
Sebagai upaya bertahan, Hidayatullah terpaksa mengambil langkah dengan mengecilkan ukuran tahu yang diproduksi. Menurutnya, langkah ini adalah pilihan paling realistis agar harga tetap terjangkau bagi konsumen tanpa harus menaikkan harga secara signifikan.
“Terpaksa kami kecilkan ukurannya. Ini jalan tengah supaya usaha tetap jalan, meskipun keuntungan makin tipis,” jelasnya.
Dilema Harga dan Daya Beli Masyarakat
Kondisi ini juga tidak hanya dialami oleh Hidayatullah, tetapi oleh banyak pelaku UMKM lainnya yang bergerak di sektor produksi tahu dan tempe. Kenaikan harga kedelai telah menjadi persoalan bersama yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Faktor Global Penyebab Kenaikan Harga Kedelai
Diketahui, kenaikan harga kedelai dipengaruhi oleh sejumlah faktor global, seperti gangguan rantai pasok, fluktuasi nilai tukar, serta kondisi produksi di negara-negara penghasil kedelai. Ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai membuat harga di dalam negeri sangat rentan terhadap perubahan pasar global.
Akibatnya, pelaku UMKM menjadi pihak yang paling terdampak karena memiliki keterbatasan modal dan tidak memiliki banyak pilihan dalam menyiasati kenaikan biaya produksi.
Harapan Pelaku UMKM kepada Pemerintah
Di tengah situasi tersebut, Hidayatullah berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk membantu para pelaku usaha kecil.
“Kami berharap pemerintah bisa mengambil kebijakan atau sikap tegas. Setidaknya ada solusi agar harga kedelai bisa stabil atau ada bantuan bagi pelaku UMKM seperti kami,” harapnya.
Ia juga menekankan bahwa di tengah badai krisis global yang masih berlangsung, keberpihakan pemerintah terhadap pelaku UMKM sangat dibutuhkan. Tanpa adanya intervensi atau kebijakan yang mendukung, banyak usaha kecil dikhawatirkan tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.
Ancaman bagi Keberlangsungan Usaha Tahu dan Tempe
Selain itu, kenaikan harga kedelai juga berpotensi berdampak pada masyarakat luas sebagai konsumen. Tahu dan tempe merupakan sumber protein yang terjangkau dan menjadi bagian penting dalam konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia. Jika harga terus naik atau ukuran terus menyusut, maka daya beli masyarakat pun akan ikut terpengaruh.
Dengan kondisi yang semakin sulit ini, para pelaku UMKM berharap adanya solusi nyata agar mereka bisa terus bertahan dan tetap berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
