Ilustrasi refleksi Hari Pendidikan Nasional yang menyoroti fenomena kapitalisasi pendidikan, saat guru di sekolah swasta berperan ganda sebagai pendidik sekaligus agen pencari siswa dalam SPMB dengan iming-iming insentif.
Ilustrasi refleksi Hari Pendidikan Nasional yang menyoroti fenomena kapitalisasi pendidikan, saat guru di sekolah swasta berperan ganda sebagai pendidik sekaligus agen pencari siswa dalam SPMB dengan iming-iming insentif.

Refleksi Hardiknas: Kapitalisasi Pendidikan dan Guru Jadi Agen Pencari Siswa

Semarang — Fenomena kapitalisasi pendidikan semakin terasa di sejumlah sekolah swasta, khususnya di Jawa Tengah. Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), praktik ini menjadi sorotan karena mulai menggeser peran utama guru dari pendidik menjadi agen pencari siswa.

Dalam praktiknya, kapitalisasi pendidikan terlihat dari keterlibatan guru dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB). Mereka didorong untuk mencari siswa sebanyak-banyaknya dengan imbalan antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per siswa. Kondisi ini menimbulkan dilema, karena guru tidak lagi hanya fokus pada kegiatan belajar mengajar, tetapi juga dibebani target rekrutmen.

Seorang guru di salah satu sekolah swasta mengaku tekanan tersebut cukup berat. “Kami tetap mengajar, tetapi juga diminta aktif mencari murid. Perannya jadi ganda, bahkan cenderung seperti marketing,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, pengamat pendidikan Syahril Shidiq menilai bahwa fenomena tersebut merupakan tanda pergeseran orientasi pendidikan. Ia menegaskan bahwa Hardiknas tidak boleh hanya diperingati secara seremonial.

“Hardiknas harus menjadi momentum evaluasi bersama, baik oleh pemerintah, sekolah, maupun masyarakat, demi kebaikan pendidikan di Indonesia,” tegasnya.

Persaingan antar sekolah swasta yang semakin ketat menjadi salah satu faktor utama munculnya praktik ini. Ketergantungan pada jumlah siswa untuk menjaga operasional sekolah membuat berbagai strategi pemasaran diterapkan, termasuk melibatkan guru secara langsung.

Namun demikian, para pengamat mengingatkan pentingnya menjaga marwah profesi guru. Pendidikan seharusnya tetap berorientasi pada pembentukan kualitas manusia, bukan semata-mata menjadi komoditas.

Momentum Hardiknas diharapkan menjadi titik refleksi untuk mengembalikan esensi pendidikan, serta memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas dan integritas dunia pendidikan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!