Operator Madrasah Jadi Korban Perubahan Sistem Kemenag
Perubahan sistem di lingkungan Kementerian Agama kembali memicu keluhan dari operator madrasah. Setelah uji coba emisgtk.imp, Kemenag kembali mengarahkan pengguna ke emisgtk.kemenag.go.id. Perubahan yang berulang ini membuat operator harus menyesuaikan data dari awal.
Situasi ini ikut memicu persoalan TPG PPG 2025 belum cair untuk periode Januari–Februari. Guru menunggu haknya, sementara operator bekerja ekstra memastikan data valid. Mereka harus memeriksa beban mengajar, status keaktifan, hingga sinkronisasi NRG.
Sidiq, operator madrasah swasta di Jawa Tengah, merasakan langsung dampaknya. Ia mengaku harus bolak-balik membuka aplikasi yang berbeda. Ia juga memeriksa ulang data guru setiap kali sistem berubah. “Baru saja selesai penyesuaian, sekarang kembali lagi. Kami mulai lagi dari awal,” ujarnya.
Sidiq menerima honor yang terbatas setiap bulan. Namun ia memikul tanggung jawab besar dalam pengelolaan data guru. Ia menjawab pertanyaan guru yang resah. Ia juga memastikan tidak ada kesalahan input yang bisa menghambat pencairan.
Banyak operator madrasah swasta bukan lulusan PPG. Sebagian besar lulusan SMA atau MA. Meski begitu, mereka mengurus administrasi TPG yang kompleks dan penuh regulasi. Mereka membaca juknis, mengikuti pembaruan, dan menyesuaikan data sesuai kebijakan terbaru.
Perubahan sistem tanpa transisi matang menambah beban kerja operator. Mereka belajar ulang setiap kali platform berganti. Mereka juga menghabiskan waktu lebih lama untuk validasi. Kondisi ini menguras tenaga dan pikiran.
Operator berharap Kemenag menetapkan satu sistem yang stabil. Mereka siap bekerja dan menyesuaikan diri. Namun mereka membutuhkan kepastian kebijakan. Sistem yang konsisten akan mempercepat proses dan mengurangi kesalahan.
Guru dan operator kini menunggu kejelasan jadwal pembayaran. Mereka ingin persoalan teknis segera selesai. Mereka berharap kebijakan yang lebih matang akan melindungi hak guru sekaligus meringankan beban operator madrasah.
