Ada yang Salah dengan Kendal: Dampak Galian C dan Kerusakan Lingkungan

Oleh: Ning Aslikhrina Alamuddin

Galian C di Kendal menjadi kegelisahan yang saya rasakan sejak menetap sebagai warga baru di Kabupaten Kendal. Tulisan ini saya sampaikan dengan penuh kerendahan hati. Apabila terdapat pandangan yang kurang tepat, hal tersebut sepenuhnya menjadi keterbatasan saya sebagai pendatang. Namun demikian, satu hal sulit saya abaikan: ada yang salah dengan Kendal.

Kegelisahan Warga Baru di Kabupaten Kendal

Sebagai pendatang, saya berusaha memahami Kendal secara perlahan. Pada awalnya, daerah ini terasa ramah dan menenangkan. Akan tetapi, seiring waktu, kegelisahan mulai muncul ketika perubahan lingkungan semakin terlihat jelas di sekitar tempat tinggal saya.

Kondisi Alam Kendal Lima Tahun Lalu

Lima tahun lalu, saat pertama kali datang, kondisi lingkungan Kendal masih terasa ramah. Pegunungan di sekitar permukiman tampak hijau dan terjaga. Selain itu, tambak-tambak di kawasan Pantura masih produktif dan mampu menghasilkan udang. Pada masa tersebut, alam berjalan selaras dengan kehidupan manusia.

Perubahan Lingkungan yang Semakin Terasa

Kini, kondisi tersebut perlahan berubah. Pegunungan mulai kehilangan bentuk alaminya. Sementara itu, area hijau terus berkurang dan kerusakan lingkungan terjadi sedikit demi sedikit. Meski demikian, dampaknya terasa nyata dan menyakitkan bagi warga sekitar.

Satwa Liar Kehilangan Habitat

Kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada manusia. Di sisi lain, satwa liar juga merasakan dampaknya secara langsung. Di kawasan Boja, misalnya, monyet-monyet kini sering turun ke permukiman warga. Mereka tidak datang untuk mengganggu, melainkan terpaksa mencari ruang hidup baru. Akibatnya, habitat yang dahulu memberi perlindungan kini tidak lagi mampu menopang kehidupan mereka.

Sistem Air Rusak dan Risiko Banjir

Selain merusak ekosistem, perubahan lingkungan juga memengaruhi sistem tata air. Tanah yang rusak tidak lagi mampu menyerap air hujan secara optimal. Ketika hujan turun, air kehilangan jalannya. Oleh karena itu, banjir dan genangan air menjadi risiko yang harus ditanggung masyarakat secara bersama-sama.

Dampak Galian C di Kendal terhadap Lingkungan dan Warga

Dalam konteks ini, aktivitas galian C di Kendal menjadi bagian dari kegelisahan tersebut. Penambangan yang berlangsung secara ugal-ugalan dan minim perhatian terhadap lingkungan terus terjadi. Akibat praktik tersebut, kepentingan segelintir pihak sering kali lebih diutamakan daripada keselamatan dan kenyamanan warga.

Setiap hari, truk-truk besar bermuatan tanah melintas tanpa henti. Di saat yang sama, jalan-jalan kampung yang sempit harus menanggung beban berat. Debu beterbangan di udara dan mengganggu kesehatan warga. Namun sayangnya, kondisi ini perlahan dianggap sebagai hal biasa.

Suara Warga yang Kerap Terabaikan

Banyak warga sebenarnya tidak menyetujui kondisi tersebut. Sayangnya, suara masyarakat kerap kalah oleh kepentingan ekonomi dan hitung-hitungan keuntungan. Dengan demikian, keluhan warga sering kali tidak mendapatkan ruang yang semestinya.

Sorotan terhadap aktivitas tambang di Kendal sebenarnya bukan hal baru. Sebagai contoh, pascabanjir, Kyai Djauhari juga meminta Pemerintah Kabupaten Kendal untuk mengevaluasi tambang dan tata ruang wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan galian C di Kendal telah menjadi perhatian berbagai pihak.

  • Baca juga:

https://infosemarangraya.com/usai-banjir-kyai-djauhari-minta-pemkab-kendal-evaluasi-tambang-dan-tata-ruang/

Pertanyaan Sederhana dari Keresahan Warga

Dalam hati, saya sering bertanya dengan logat sederhana:

“Kok iso? Dalan cilik isine truk gedhe, gunung mindah neng kene, nanging ora ono sing ngelokno?”

Pertanyaan ini memang sederhana. Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan yang dirasakan banyak orang.

Kerusakan Lingkungan sebagai Persoalan Kemanusiaan

Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan alam. Lebih dari itu, masalah ini menyentuh sisi kemanusiaan. Ketika gunung rusak, hutan hilang, jalan hancur, dan udara tercemar, maka kualitas hidup masyarakat ikut menurun.

Harapan untuk Masa Depan Kendal

Pada akhirnya, Kendal adalah rumah. Rumah bagi warganya, para pendatang, dan generasi yang akan datang. Oleh sebab itu, menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau kebijakan di atas kertas. Tanggung jawab ini melekat pada semua pihak.

Semoga Kendal membaik. Rakyatnya lebih didengar. Pemimpinnya lebih berpihak. Dan kebijakannya benar-benar memihak kehidupan.

Isu kerusakan lingkungan juga menjadi perhatian pemerintah pusat melalui kebijakan perlindungan lingkungan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sumber: Caption TikTok Ning Aslikhrina Alamuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!