Berhenti Salahkan Orang Miskin: Inilah Bukti Mereka Korban Politik Kotor
Penulis: Hudallah Kafi
ISR – Masih banyak anggapan di masyarakat bahwa kemiskinan terjadi karena kemalasan individu. Narasi ini bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan. Faktanya, sebagian besar orang miskin di Indonesia bukanlah malas, melainkan korban kemiskinan struktural—kemiskinan yang lahir dari sistem yang tidak adil dan tata kelola negara yang bermasalah.
Kemiskinan struktural terjadi ketika sistem pemerintahan, kebijakan ekonomi, dan praktik politik justru menciptakan kondisi yang memiskinkan rakyat. Akses pendidikan yang tidak merata, lapangan kerja yang sempit, upah yang tidak layak, serta layanan kesehatan yang semakin mahal adalah contoh nyata bagaimana negara gagal menjamin kebutuhan dasar warganya. Dalam kondisi seperti ini, sekeras apa pun seseorang bekerja, mereka tetap sulit keluar dari jerat kemiskinan.
Masalah semakin parah ketika praktik politik yang kotor dan penuh kepentingan elite menjadi bagian dari sistem. Anggaran publik yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat justru bocor karena korupsi. Program bantuan sosial sering kali tidak tepat sasaran, dipolitisasi, bahkan dijadikan alat pencitraan. Akibatnya, rakyat kecil terus berada di posisi paling rentan, dipaksa bertahan hidup dalam keadaan serba kekurangan.
Banyak buruh bekerja lebih dari delapan jam sehari dengan upah minim. Petani bergantung pada harga pasar yang tidak berpihak. Pedagang kecil terhimpit oleh kebijakan dan persaingan yang tidak adil. Mereka bekerja keras, tetapi sistem tidak memberi mereka peluang yang setara. Inilah bentuk nyata bagaimana seseorang dipaksa miskin oleh keadaan, bukan oleh pilihan hidupnya.
Menyalahkan orang miskin atas kemiskinan mereka sama saja menutup mata dari akar persoalan yang sesungguhnya. Jika negara benar-benar hadir, maka kebijakan harus berpihak pada rakyat, politik harus bersih, dan sistem ekonomi harus adil. Tanpa itu semua, kemiskinan akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan korban, dan mulai mengoreksi sistem. Karena kemiskinan bukan semata soal individu, tetapi soal keadilan sosial dan tanggung jawab negara.
