Nilai TKA Anjlok, Masih Relevankah Kurikulum Pendidikan Kita?
Semarang, ISR – Pengumuman hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 seolah membuka tabir yang selama ini tertutup rapat. Rata-rata nilai di hampir seluruh provinsi menunjukkan capaian yang memprihatinkan, terutama pada mata pelajaran dasar seperti Matematika dan Bahasa Inggris. Fakta ini memantik satu pertanyaan besar: masih relevankah kurikulum pendidikan kita dengan perkembangan zaman?
Selama bertahun-tahun, publik disuguhi angka kelulusan tinggi dan rapor siswa yang nyaris sempurna. Namun TKA justru berbicara sebaliknya. Tes ini menjadi cermin jujur kemampuan akademik siswa secara riil—tanpa bisa “dipoles” oleh nilai sikap, proyek, atau kebijakan kelulusan yang terlalu longgar.
Lebih mengkhawatirkan lagi, di lapangan muncul fakta bahwa tidak sedikit lulusan sekolah menengah yang kesulitan membaca, menulis, bahkan memahami soal sederhana. Ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi indikasi adanya masalah sistemik dalam dunia pendidikan kita.
Sekolah Terjebak Angka, Bukan Kompetensi
Tak bisa dimungkiri, sebagian sekolah selama ini terjebak pada orientasi administratif. Nilai siswa “dikatrol” demi:
menjaga akreditasi sekolah,
menaikkan peringkat kelulusan,
serta membuka jalan siswa diterima di kampus bergengsi.
Akibatnya, proses pendidikan kehilangan esensi. Sekolah lebih sibuk mengejar angka daripada memastikan siswa benar-benar menguasai literasi, numerasi, dan nalar kritis. TKA akhirnya hadir sebagai “tamparan keras” yang membongkar ilusi keberhasilan tersebut.
Kurikulum Modern, Implementasi Tertinggal
Secara konsep, kurikulum pendidikan Indonesia tidak sepenuhnya tertinggal. Istilah seperti student-centered learning, critical thinking, dan project based learning sering digaungkan. Namun di ruang kelas, realitasnya berbeda:
Guru terbebani administrasi,
Proses belajar minim pendalaman,
Evaluasi lebih longgar dari standar kompetensi.
Di sisi lain, perkembangan zaman menuntut lulusan yang adaptif, mampu berpikir logis, membaca data, dan menyelesaikan masalah nyata—bukan sekadar hafal materi.
TKA Sebagai Alarm, Bukan Musuh
TKA seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, apalagi kambing hitam. Justru tes ini adalah alarm keras bagi dunia pendidikan. Ia memaksa semua pihak—pemerintah, sekolah, guru, orang tua—untuk jujur pada kondisi sebenarnya.
Jika hasilnya rendah, maka yang perlu dibenahi bukan tesnya, melainkan:
kualitas pembelajaran,
sistem penilaian,
dan keberanian mengakui kelemahan.
Penutup
Nilai TKA yang anjlok bukan sekadar angka. Ia adalah potret masa depan bangsa jika pembenahan tidak segera dilakukan. Pendidikan tidak boleh terus hidup dalam kepalsuan statistik. Lebih baik jujur pada kemampuan siswa hari ini, daripada mencetak generasi yang lulus secara administratif namun gagal secara kompetensi.
Pertanyaannya kini bukan lagi “siapa yang salah?”, melainkan “siapkah kita membenahi pendidikan secara sungguh-sungguh?”
Oleh: Muslikh S.Ag (Kepala MA Sabilunnajah)
