Demi Hindari Pajak, Ribuan Warga Pilih Keluar dari Agama
Jakarta, ISR – Fenomena warga Swiss meninggalkan gereja demi menghindari pajak kembali menjadi sorotan publik internasional. Di negara Eropa tersebut, pajak gereja masih diberlakukan secara resmi bagi warga yang tercatat sebagai anggota gereja yang diakui negara.
Berdasarkan laporan media Eropa Le News dan dikutip sejumlah pengamat kebijakan publik internasional, pajak gereja di Swiss dipungut melalui sistem administrasi negara dengan besaran berkisar antara 1 hingga 3 persen dari penghasilan, tergantung wilayah atau kanton tempat tinggal.
“Selama seseorang masih terdaftar sebagai anggota gereja, kewajiban pajak tetap berjalan. Satu-satunya cara menghentikannya adalah keluar secara resmi dari keanggotaan gereja,” tulis Le News dalam laporannya.
Data tahun 2023 menunjukkan lonjakan signifikan jumlah warga yang mengajukan pengunduran diri dari gereja. Sekitar 67 ribu orang tercatat keluar dari Gereja Katolik, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sementara dari gereja Protestan, lebih dari 39 ribu warga melakukan langkah serupa. Totalnya, hampir 100 ribu warga Swiss secara resmi meninggalkan gereja dalam satu tahun.
Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) mencatat wilayah Basel-Stadt menjadi kanton dengan tingkat pengunduran diri tertinggi, mencapai 4,5 persen. Wilayah ini memiliki mekanisme administratif yang relatif mudah bagi warga untuk menghentikan status keanggotaan gereja sehingga otomatis terbebas dari pajak gereja.
Laporan Religion Watch mengungkapkan bahwa daerah yang menerapkan pajak gereja cenderung memiliki tingkat sekularisasi lebih tinggi. Meski alasan resmi pengunduran diri tidak selalu dicantumkan, korelasi antara beban pajak dan keputusan keluar dari gereja dinilai cukup kuat.
“Pajak bukan satu-satunya faktor, tetapi menjadi pemicu nyata yang mempercepat keputusan banyak warga,” tulis laporan tersebut.
Selain faktor ekonomi, meningkatnya sekularisme, krisis kepercayaan terhadap institusi keagamaan, hingga berbagai skandal yang mencuat di lingkungan gereja turut memperkuat tren ini. Survei demografis menunjukkan sekitar 34 persen warga Swiss pada 2022 mengidentifikasi diri sebagai ateis atau tidak beragama.
Fenomena ini memunculkan perdebatan luas di Swiss mengenai relevansi pajak gereja di tengah masyarakat modern yang semakin plural dan sekuler. Sejumlah kalangan menilai kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang agar tidak mendorong warga menjauh dari institusi keagamaan hanya karena alasan administratif dan finansial.
