Suara Penyejuk di Tengah Polemik PBNU: KH. Haris Shodaqoh Ajak Kembali pada Etika dan Musyawarah

Kendal, IDR – Polemik yang tengah terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) belakangan ini mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan, termasuk para ulama dan jajaran Rais Syuriah PBNU. Salah satu suara yang mengemuka datang dari KH. Haris Shodaqoh, yang memberikan pandangan sekaligus saran terkait dinamika organisasi yang sedang menjadi sorotan publik.

Dalam sebuah penyampaian yang beredar melalui media sosial, KH. Haris menyampaikan bahwa sejak awal dirinya berharap Ketua Umum PBNU diberi ruang untuk melakukan tabayyun di hadapan jajaran Syuriah. Namun, kesempatan tersebut disebut tidak pernah terlaksana hingga akhirnya memunculkan situasi memanas dan berujung pada kekisruhan internal.

> “Sejak awal, saya berharap Ketua Umum PBNU diberi kesempatan untuk bertabayyun di hadapan Syuriah. Tetapi itu tidak pernah terjadi, sehingga terjadi kekacauan seperti saat ini,” ujar KH. Haris dalam pernyataannya.

Beliau juga memberikan saran konkret agar penyelesaian perkara dilakukan dengan mengikuti dawuh para Mustasyar dan para kiai sepuh yang telah bermusyawarah di Ploso dan Tebuireng. Menurutnya, dalam tradisi NU, tidak hanya ada pedoman AD/ART sebagai dasar organisasi, namun juga terdapat etika dan adab dalam menyikapi perbedaan serta menyelesaikan persoalan.

> “Saran konkret saya, ikuti saja dawuh para Mustasyar dan sesepuh yang sudah bermusyawarah di Ploso dan Tebuireng. Karena di NU selain ada AD/ART, juga ada etika,” lanjutnya.

Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya isu dualisme sikap di internal PBNU yang berkembang pasca sejumlah pihak menyuarakan kritik maupun dukungan terkait kepemimpinan PBNU saat ini. Polemik tersebut turut menjadi perbincangan luas di berbagai daerah, terutama di kalangan warga nahdliyin yang mengharapkan penyelesaian secara damai dan bermartabat sesuai tradisi jam’iyyah.

Sejumlah tokoh dan pesantren besar sebelumnya juga diketahui telah menggelar forum musyawarah dengan tujuan meredam tensi organisasi dan mencari titik temu penyelesaian. Seruan rekonsiliasi dan tabayyun dinilai menjadi langkah penting agar roda organisasi tetap berjalan dalam bingkai persatuan serta mengedepankan nilai keulamaan.

Warga NU di berbagai daerah berharap agar polemik ini segera mereda melalui jalur musyawarah, menghormati nasihat para ulama sepuh, dan menjaga marwah organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!