KH. Munib Abdul Muchit, Wakil Syuriyah PWNU Jateng

Konflik Kiai Tak Kunjung Reda—Siapa Dalang Besar di Baliknya?

Kendal, Infosemarangraya.com – Menggambarkan konflik para kiai hari ini ibarat memasak ndas manyung—sebuah proses yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Ndas manyung yang baik harus dipilih dengan cermat, diendus untuk memastikan kematangan asapnya, agar rasa yang muncul lezat namun tidak terlalu menyengat. Belum lagi racikan bumbu yang harus pas: asin, manis, sedikit pedas, ditambah tomat dan sayur terong yang menemani. Jika takarannya tepat, hasilnya membuat ketagihan.

Namun, karena memasak ndas manyung membutuhkan keahlian khusus, kami hanya bisa berimajinasi liar. Siang ini, beberapa telepon masuk dan seorang “pemain nasional”—meminjam istilah sepak bola—baru saja bertamu. Ia orang yang bersentuhan dengan politisi dan kekuasaan; entah ia gelandang atau striker dalam permainan yang rumit ini.

Dari rangkuman berbagai informasi, kami menemukan bahwa menyikapi konflik kiai ternyata jauh lebih rumit daripada memasak ndas manyung. Perlahan kami meyakini bahwa semua ini tak lepas dari konspirasi politik. Konspirasi yang bekerja seperti kentut: ada baunya, tetapi tak pernah ada data valid yang bisa digenggam. Targetnya jelas: NU dilemahkan, wibawanya dikikis, pengaruhnya dipreteli.

Entah kebetulan atau bagian dari skenario besar, pemberian konsesi tambang untuk NU menjadi salah satu babak yang mengundang banyak tanya. Keputusan yang seharusnya ditimbang manfaat dan mudaratnya secara serius itu justru diterima begitu saja. Padahal NU bukan kumpulan pengusaha atau organisasi profit—dan langkah itu berpotensi gagal. Ketika wacana konsesi kemudian ditarik-ulur di lini kedua, NU justru terus menjadi sasaran bully tanpa henti.

Bagian paling getir adalah dorongan terhadap isu pemakzulan. Mencari alasan yang benar-benar murni, tanpa tendensi politik, tampaknya hampir mustahil. Terlebih masa jabatan kepengurusan tinggal beberapa bulan lagi. Namun hari ini, bully terhadap NU terus berlangsung, seolah tanpa jeda, dan NU tampak tak berdaya menghadapi badai ini.

Dua kubu yang bertikai saling ngotot, masing-masing mengklaim paling benar—seperti anak kecil berebut mainan. Cakar-cakaran terjadi, luka muncul di mana-mana, dan air mata orang yang melihat pun tak tertahan.

Jika konflik ini terus berlangsung, NU akan tersingkir dari panggung kebijakan nasional maupun daerah. Sementara itu, kabar beredar bahwa organisasi yang selama ini menjadi kompetitor NU justru mengalami peningkatan posisi. Ironisnya, kelompok-kelompok berhaluan kanan disebut mulai kembali ditumbuhkan untuk menjadi penyeimbang baru. Bahkan, gerakan 212 dikabarkan akan menggelar perhelatan akbar di Monas besok.

Konspirasi itu jahat—tetapi lebih buruk lagi adalah mereka yang dibenturkan namun menolak sekadar bernalar, enggan merendahkan ego demi kemaslahatan dan kewibawaan NU. Kekuatan konspirasi politik ini seperti api besar yang melalap gedung tinggi: bukan hanya hembusan angin, tetapi badai yang mampu memporak-porandakan segalanya.

Penulis : KH. Munib Abdul Muchit, Wakil Syuriyah PWNU Jateng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!