MI Muhammadiyah Purwodadi Gelar Ujian Tahfidz
TEMANGGUNG, ISR – MI Muhammadiyah Purwodadi kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi Qur’ani melalui pelaksanaan Ujian Tahfidz Sekali Duduk Juz 29 dan 30. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 6 Januari 2026, di lingkungan MI Muhammadiyah Purwodadi sejak pukul 07.00 hingga 13.00 WIB.
Sebanyak 47 peserta didik dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti ujian tahfidz tersebut. Para siswa sebelumnya telah menjalani pembinaan dan persiapan intensif sebagai bagian dari program unggulan madrasah yang berfokus pada pembelajaran dan penguatan hafalan Al-Qur’an sejak usia dini.
Untuk menjaga kualitas dan objektivitas penilaian, madrasah menghadirkan 14 penguji dari berbagai lembaga pendidikan, di antaranya Almatera, SMP Program Khusus Muhammadiyah Temanggung, serta SD Muhammadiyah Parakan. Kehadiran penguji eksternal ini menjadi bentuk keseriusan MI Muhammadiyah Purwodadi dalam menyelenggarakan ujian tahfidz secara profesional dan akuntabel.
Kepala MI Muhammadiyah Purwodadi menyampaikan bahwa ujian tahfidz merupakan agenda rutin yang menjadi bagian penting dari proses pembelajaran Al-Qur’an di madrasah.
“Ujian tahfidz ini kami laksanakan untuk mengukur kemampuan hafalan siswa sekaligus sebagai bahan evaluasi terhadap pembelajaran tahfidz yang telah berjalan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa program tahfidz tidak hanya berorientasi pada capaian hafalan, tetapi juga pembentukan karakter islami peserta didik.
“Kami ingin siswa tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga tumbuh dengan akhlak yang baik dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” tambahnya.
Menurutnya, madrasah menerapkan program tahfidz secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan dengan memperhatikan perbedaan kemampuan setiap siswa.
“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, kami memberikan ruang belajar yang nyaman agar siswa berkembang sesuai kemampuannya tanpa tekanan,” jelasnya.
Pelaksanaan ujian dilakukan secara berjenjang. Para siswa maju satu per satu untuk menyetorkan hafalan sesuai target juz 29 atau juz 30. Sebelum ujian, mereka rutin melakukan murojaah bersama guru tahfidz di kelas masing-masing.
Salah satu penguji menjelaskan bahwa penilaian tidak hanya berfokus pada jumlah hafalan, tetapi juga pada kualitas bacaan dan sikap siswa.
“Kami menilai kelancaran hafalan, ketepatan makharijul huruf, penerapan tajwid, serta adab saat membaca Al-Qur’an. Adab menjadi poin penting agar siswa tidak hanya kuat hafalan, tetapi juga berakhlak,” tuturnya.
Selama ujian berlangsung, suasana tampak tertib, khidmat, dan penuh semangat. Para siswa menunjukkan antusiasme dan kepercayaan diri saat menyetorkan hafalan. Guru-guru pun aktif memberikan pendampingan dan motivasi agar siswa tetap fokus.
Melalui kegiatan ini, MI Muhammadiyah Purwodadi berharap kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an terus tumbuh dan mengakar. Ujian tahfidz dipandang bukan sebagai beban, melainkan sarana pembinaan dan motivasi dalam mewujudkan generasi Qur’ani yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan berkemajuan.
