Muswil IX DPW PPP Jawa Tengah Cerminkan Kerapuhan Partai
Semarang, ISR – Pelaksanaan Muswil IX DPW PPP Jawa Tengah mencerminkan kondisi internal Partai Persatuan Pembangunan yang semakin rapuh. Forum strategis ini kehilangan legitimasi moral karena tidak menghadirkan sejumlah kiai kharismatik yang selama ini menjadi kekuatan utama PPP.
Penilaian tersebut disampaikan KH. Munib Abd Muchit, Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah. Menurutnya, absennya para kiai sepuh dalam Muswil IX DPW PPP Jawa Tengah bukan persoalan teknis. Sebaliknya, kondisi itu menjadi sinyal kuat melemahnya soliditas internal partai.
Absennya Kiai Sepuh Jadi Alarm Serius
KH. Munib menyoroti tidak hadirnya KH. Mustofa Aqil Siradj dan KH. Kharis Shodaqoh. Kedua kiai sepuh tersebut selama ini berperan menjaga arah moral dan basis kultural PPP.
Menurutnya, Muswil tanpa kehadiran tokoh-tokoh tersebut kehilangan ruh kebersamaan. Selain itu, forum partai juga tampak jauh dari semangat musyawarah yang selama ini menjadi ciri khas PPP.
“Ketika kiai kharismatik tidak hadir, itu menandakan ada masalah besar. PPP sedang berada dalam kondisi sangat rapuh,” tegas KH. Munib.
Dampak Gagal Lolos Parlemen 2024
Selain absennya kiai sepuh, KH. Munib juga menilai kegagalan PPP lolos ke parlemen pada Pemilu 2024 memperberat beban partai. Karena itu, ia menilai PPP seharusnya menjadikan kondisi tersebut sebagai momentum konsolidasi.
Namun, hingga kini, konflik internal justru semakin terlihat. Sementara itu, perbedaan sikap antar elite terus menguat tanpa arah penyelesaian yang jelas.
Menurut KH. Munib, situasi ini berpotensi menjauhkan PPP dari basis tradisionalnya, khususnya warga pesantren dan nahdliyin.
Kritik Terhadap Kepemimpinan Pusat
Dalam pandangannya, KH. Munib menilai Ketua Umum DPP PPP Mardiono memegang peran sentral dalam menentukan masa depan partai. Oleh karena itu, ia meminta pimpinan pusat mengedepankan sikap merangkul, bukan meminggirkan.
Ia juga menyoroti kesan adanya sikap balas dendam politik terhadap pengurus wilayah yang pada saat muktamar tidak mendukung Mardiono. Menurutnya, sikap tersebut hanya akan mempercepat kemunduran partai.
“Ketua umum harus meninggalkan ego. PPP tidak bisa dibangun dengan konflik dan dendam politik,” ujarnya.
Solusi Menuju 2029
Sebagai solusi, KH. Munib mendorong PPP memperkuat soliditas internal secara menyeluruh. Ia meminta pimpinan partai mengakomodasi seluruh kekuatan internal, baik struktural maupun kultural.
Selain itu, ia menekankan pentingnya merangkul kembali para sesepuh kiai serta figur strategis seperti Gus Yasin. Dengan demikian, PPP masih memiliki peluang untuk bangkit dan kembali ke parlemen pada Pemilu 2029.
Sebaliknya, jika konflik terus dibiarkan, KH. Munib memastikan PPP hanya akan mengulang kegagalan.
“Jika kondisinya masih seperti ini, PPP akan kembali menjadi pecundang pada 2029,” pungkasnya.
