Jual Daun Pisang, Begini Perjuangan Mak Painah Bisa Naik Haji Setelah 40 Tahun Menabung
Jeddah— Panggilan menuju Baitullah terbukti tidak melulu milik mereka yang bergelimang kemewahan harta. Kisah nyata dari Painah (65), seorang perempuan tangguh asal Dusun Ngegok, Wonosobo Barat, Jawa Tengah, menjadi bukti nyata bahwa lewat usaha jual daun pisang, begini perjuangan Mak Painah bisa naik haji setelah 40 tahun menabung dengan penuh ketekunan.
Mak Painah yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) YIA 22 ini mendadak jadi pusat perhatian saat menginjakkan kaki di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (17/05/2026). Air matanya tumpah karena dari hasil jual daun pisang, begini perjuangan Mak Painah bisa naik haji setelah 40 tahun menabung lembar demi lembar rupiah, akhirnya ia bisa menjawab panggilan Ilahi ke Tanah Suci.
Nenek paruh baya ini terbang bersama 354 jemaah lainnya menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-6522. Pesawat tersebut lepas landas dari Yogyakarta International Airport (YIA) pukul 05.40 WIB. Di Makkah nanti, Mak Painah akan menempati hotel di Sektor 8, tepatnya di Number One Hotel 1.
Menantang Dingin Malam Sejak Pukul 01.30 Dini Hari
Bagi Mak Painah, perjalanan ibadah ini tidak bermula dari nyamannya ruang tunggu bandara, melainkan dari pekatnya malam di kebun pisang. Selama lebih dari empat dekade, ia melakoni pekerjaan berat sebagai buruh pemetik sekaligus penjual daun pisang demi menyambung hidup.
Setiap hari, tepat pukul 01.30 WIB dini hari saat orang lain masih terlelap, Mak Painah sudah menggendong ikatan daun pisang menuju Pasar Pagi Wonosobo.
“Saya itu buruh. Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun,” tutur Mak Painah dengan suara bergetar kepada tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Jeddah.
Perjuangan fisiknya tergolong luar biasa untuk lansia seusianya. Ia memetik sendiri daun-daun tersebut, melipatnya dengan rapi, menimbangnya per kilogram, lalu memasukkannya ke dalam karung koli. Dari setiap kilogram daun pisang yang ia jual, Mak Painah hanya menerima uang berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 saja.
Pendapatannya tentu sangat tidak menentu. Kadang kala ia hanya membawa pulang uang Rp15.000 sehari, meski jika beruntung saat pasar ramai, ia bisa mengantongi hingga Rp200.000.
Konsisten Kumpulkan Uang Receh demi Baitullah
Walau penghasilannya pas-pasan, tekad Mak Painah sekeras baja. Ia secara konsisten menyisihkan sebagian uang hasil jualan tersebut ke dalam tabungan khusus yang ia simpan di rumah. Pada tahun 2012, berbekal tabungan tersebut, ia memberanikan diri mendaftar haji.
Sang putra, Sabar Munasir (33), yang setia mendampingi ibunya terbang ke Arab Saudi, membenarkan perjuangan hebat sang ibu. Sabar sendiri berangkat menggantikan ayahnya yang tidak lolos syarat kesehatan (istithaah).
“Ibu mendaftar haji murni pakai uang receh hasil jualan. Uang receh itu ibu kumpulkan sedikit demi sedikit selama puluhan tahun,” ungkap Sabar dengan rasa bangga.
Sempat Pasrah karena Takut Usia Tak Sampai
Menunggu giliran berangkat selama 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi seorang lansia. Selama masa tunggu yang panjang itu, Mak Painah mengaku sering merasa cemas jika usianya tidak sempat melihat Ka’bah.
Ia bahkan sempat pasrah dan berpikir bahwa tabungan haji dari uang recehnya itu mungkin hanya akan ia gunakan untuk biaya berobat jika jatuh sakit, atau untuk biaya pemakaman jika ia meninggal dunia. Namun, Tuhan menjawab keikhlasannya dengan cara yang indah.
“Remen sanget (senang sekali) bisa sampai Tanah Suci menjalankan ibadah haji,” ucap Mak Painah penuh rasa syukur.
Kisah Mak Painah menjadi refleksi mendalam bagi siapa saja. Keterbatasan ekonomi terbukti kalah oleh ketegunan dan niat tulus yang terjaga dalam waktu puluhan tahun.
