Jika Tambang Galian C Tunggulsari Berjalan, Jalan Rusak dan Berdebu
KENDAL, ISR — Jika tambang galian C Tunggulsari berjalan, warga khawatir jalan desa akan kembali rusak akibat lalu lintas kendaraan pengangkut material. Jalan Tunggulsari–Kertomulyo selama ini menjadi akses penting bagi masyarakat untuk bekerja, bersekolah, mengangkut hasil pertanian, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kekhawatiran itu semakin kuat jika tambang galian C Tunggulsari berjalan dan ribuan dump truck keluar masuk wilayah desa. Warga menilai kondisi jalan yang sempit tidak sebanding dengan volume kendaraan berat yang kemungkinan melintas. Bahkan, di sejumlah titik, dua truk sulit berpapasan karena lebar jalan terbatas.
Jalan Desa Terancam Menanggung Beban Kendaraan Berat
Aktivitas pengangkutan material tambang tentu membutuhkan kendaraan dengan kapasitas besar. Jika dump truck melintas secara terus-menerus, beban jalan akan jauh lebih tinggi dibandingkan lalu lintas kendaraan warga sehari-hari.
Warga khawatir kondisi itu mempercepat kerusakan jalan, terutama pada bagian yang tidak dirancang untuk menanggung lalu lintas kendaraan berat dalam jumlah besar.
Persoalan tidak hanya menyangkut kerusakan aspal atau beton. Jalan yang rusak juga dapat mengganggu aktivitas warga dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Pengendara sepeda motor harus berbagi ruang dengan kendaraan besar. Kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya ketika truk berpapasan di ruas jalan yang sempit.
Kemarau Membawa Ancaman Debu
Saat musim kemarau, warga menghadapi persoalan lain. Kendaraan yang keluar masuk lokasi tambang berpotensi membuat debu beterbangan di sepanjang jalur pengangkutan.
Debu dapat mengotori rumah, halaman, tanaman, dan lingkungan warga. Bagi masyarakat yang rumahnya berada di dekat jalan, lalu lintas dump truck setiap hari tentu dapat mengurangi kenyamanan.
Warga juga khawatir aktivitas tersebut mengubah suasana desa yang selama ini relatif tenang menjadi jalur kendaraan berat yang ramai.
Musim Hujan Jalan Bisa Licin
Ketika hujan turun, persoalannya berubah. Lumpur dan tanah yang terbawa roda kendaraan dapat menempel di permukaan jalan.
Jalan yang licin tentu membahayakan pengendara, khususnya pengguna sepeda motor. Risiko semakin besar ketika kendaraan besar melintas bersamaan dengan aktivitas masyarakat.
Karena itu, warga meminta perusahaan dan pemerintah memikirkan persoalan tersebut secara serius sebelum aktivitas pengangkutan material dimulai.
Jalan Tunggulsari-Kertomulyo Baru Diperbaiki
Warga juga mengingat kondisi Jalan Tunggulsari–Kertomulyo beberapa tahun lalu. Menurut mereka, jalan tersebut dulu dalam kondisi kurang baik dan cukup mengganggu aktivitas masyarakat.
Pemerintah kemudian melakukan pengecoran sehingga kondisi jalan menjadi lebih baik dan nyaman digunakan.
Kini warga khawatir kerja pembangunan tersebut kembali sia-sia jika jalan harus menerima beban kendaraan tambang dalam jumlah besar.
“Selama ini Jalan Tunggulsari–Kertomulyo jelek. Baru beberapa tahun dicor dan sudah mulus. Masa mau dirusak lagi karena keserakahan tambang?” ujar salah seorang warga.
Warga Tidak Ingin Jalan Desa Berubah Menjadi Jalur Tambang
Bagi masyarakat Tunggulsari, jalan tersebut memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar jalur kendaraan.
Setiap hari warga menggunakan jalan itu untuk pergi bekerja, mengantar anak sekolah, membawa hasil kebun, berbelanja, hingga mengakses fasilitas umum.
Jika ribuan dump truck masuk ke wilayah desa, warga khawatir kepentingan masyarakat justru tersisih oleh kebutuhan pengangkutan material tambang.
Mereka meminta pemerintah memperhitungkan lebar jalan, daya tahan konstruksi, volume kendaraan, serta keselamatan pengguna jalan sebelum aktivitas tambang berjalan.
Jangan Sampai Jalan yang Baru Dibangun Kembali Rusak
Warga berharap pemerintah tidak hanya mempertimbangkan izin dan potensi ekonomi dari aktivitas pertambangan. Kondisi infrastruktur dan keselamatan masyarakat juga perlu menjadi perhatian.
Jika perusahaan memang akan menggunakan jalan desa sebagai jalur pengangkutan, warga meminta adanya kejelasan mengenai rute kendaraan, pembatasan tonase, pengendalian debu, penanganan lumpur, hingga tanggung jawab jika jalan mengalami kerusakan.
Masyarakat tidak ingin menikmati jalan yang baru diperbaiki hanya dalam waktu singkat. Mereka berharap pembangunan yang menggunakan anggaran dan tenaga tersebut dapat bertahan lama serta tetap memberikan manfaat bagi warga.
Bagi masyarakat Tunggulsari, persoalannya sederhana: jangan sampai jalan yang baru dibuat nyaman kembali rusak hanya karena harus menanggung aktivitas kendaraan tambang dalam jumlah besar.
