Hari Anak Nasional, Indonesia Emas 2045 dan Tantangan Besar Menyiapkan Generasi Berkualitas
Penulis: Galuh Andi Luxmana, Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah
Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli bukan sekadar agenda seremonial. Momentum ini seharusnya mengajak seluruh elemen bangsa melakukan refleksi tentang masa depan anak-anak Indonesia. Sebab, anak merupakan investasi jangka panjang, baik bagi keluarga maupun negara. Mereka akan menjadi generasi penerus yang menentukan arah peradaban Indonesia pada masa mendatang.
Di balik berbagai harapan itu, banyak orang tua justru menyimpan kecemasan. Mereka menghadapi kenyataan bahwa biaya hidup terus meningkat, persaingan kerja semakin ketat, dan ketidakpastian ekonomi masih membayangi. Akibatnya, banyak keluarga mempertanyakan apakah anak-anak mereka benar-benar memiliki masa depan yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya.
Indonesia Emas 2045 Butuh Generasi yang Siap
Pemerintah mencanangkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai cita-cita besar menuju negara maju. Untuk mendukung target tersebut, berbagai program terus dijalankan. Pemerintah membangun infrastruktur, memperluas kerja sama investasi, meningkatkan layanan pendidikan, hingga menjalankan program perbaikan gizi bagi anak.
Namun demikian, muncul pertanyaan penting. Apakah seluruh kebijakan tersebut benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak? Atau justru sebagian program hanya terlihat ramah anak di permukaan, tetapi menyisakan persoalan baru dalam jangka panjang?
Pertanyaan ini layak menjadi bahan evaluasi. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kualitas generasi yang tumbuh di dalamnya.
Gizi Penting, Tetapi Bukan Satu-satunya Jawaban
Program peningkatan gizi menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk menekan angka stunting. Langkah tersebut tentu patut diapresiasi. Selain itu, data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan tren penurunan angka stunting dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, sejumlah akademisi mengingatkan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan makanan. Prof. Ali Khomsan dari IPB, misalnya, menilai bahwa kemiskinan, sanitasi, serta pola asuh memiliki pengaruh yang sama besarnya.
Karena itu, kebijakan yang hanya berfokus pada bantuan pangan berisiko mengabaikan akar persoalan. Tanpa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, upaya pencegahan stunting akan sulit memberikan hasil yang optimal.
Pendidikan Jangan Abaikan Kesehatan Mental
Di sisi lain, dunia pendidikan juga menghadapi tantangan besar. Perubahan kurikulum dan sistem asesmen yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir sering kali membuat siswa maupun orang tua harus terus beradaptasi.
Sementara itu, laporan UNICEF pada 2023 menunjukkan bahwa tekanan akademik yang tinggi tanpa dukungan emosional dapat meningkatkan risiko stres dan gangguan kesehatan mental pada anak.
Oleh sebab itu, peningkatan kualitas pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Pemerintah juga perlu memastikan setiap anak memperoleh lingkungan belajar yang sehat, aman, dan mendukung perkembangan psikologisnya.
Era Digital Membawa Peluang Sekaligus Risiko
Transformasi digital membuka akses informasi yang semakin luas. Anak-anak kini lebih mudah memperoleh pengetahuan melalui internet maupun berbagai perangkat digital.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Tanpa pendampingan orang tua dan literasi digital yang memadai, anak berpotensi mengalami kecanduan gawai, terpapar konten negatif, hingga kehilangan kemampuan membangun interaksi sosial.
Psikolog Jean Twenge bahkan mengingatkan bahwa penggunaan layar secara berlebihan dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan kemampuan sosial anak. Fenomena tersebut mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Keluarga Tetap Menjadi Pondasi
Selain pendidikan dan teknologi, kondisi ekonomi keluarga juga memengaruhi tumbuh kembang anak. Banyak orang tua kini harus bekerja lebih lama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya, waktu berkumpul bersama keluarga semakin berkurang.
Padahal, hubungan yang hangat antara orang tua dan anak merupakan fondasi utama pembentukan karakter. Tanpa komunikasi yang baik, anak berisiko kehilangan ruang untuk belajar nilai, empati, dan ketahanan emosional.
Hari Anak Nasional Harus Menjadi Momentum Evaluasi
Jika berbagai persoalan tersebut tidak mendapat perhatian serius, Indonesia berisiko melahirkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi rapuh secara mental dan sosial. Anak-anak mungkin menguasai teknologi, tetapi kehilangan empati. Mereka bisa produktif secara ekonomi, namun kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan.
Karena itu, Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum evaluasi terhadap seluruh kebijakan yang berkaitan dengan anak. Negara perlu memastikan setiap program benar-benar menghadirkan manfaat yang utuh bagi tumbuh kembang generasi muda.
Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud apabila pembangunan menempatkan anak sebagai subjek utama, bukan sekadar objek kebijakan. Dengan demikian, cita-cita melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global dapat benar-benar menjadi kenyataan.
