Gerbang SDN 1 Tunggulsari yang berada tepat di depan akses keluar masuk tambang galian C, memicu kekhawatiran warga terhadap debu, kebisingan, lalu lintas dump truck, dan keselamatan siswa.
Gerbang SDN 1 Tunggulsari yang berada tepat di depan akses keluar masuk tambang galian C, memicu kekhawatiran warga terhadap debu, kebisingan, lalu lintas dump truck, dan keselamatan siswa.

Galian C di Depan SDN 1 Tunggulsari, Warga: Jangan Pertaruhkan Keselamatan Anak!

KENDAL, ISR – Rencana tambang galian C di depan SDN 1 Tunggulsari menjadi perhatian warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal. Kekhawatiran muncul karena gerbang keluar masuk kendaraan tambang berada tepat di depan lingkungan sekolah.

Warga menilai tambang galian C di depan SDN 1 Tunggulsari dapat memunculkan persoalan baru bagi siswa. Mereka khawatir debu, kebisingan, dan lalu lintas dump truck mengganggu kegiatan belajar serta keselamatan anak-anak.

Warga Khawatir Nasib Anak-anak

Salah satu warga Tunggulsari mengaku sulit membayangkan kondisi sekolah jika aktivitas tambang benar-benar berjalan.

“Tidak bisa membayangkan apa jadinya napas anak-anak kita di SD. Karena memang lokasi gerbang pintu keluar masuk tambang galian C tepat di depan SDN 1 Tunggulsari,” ujarnya.

Menurut warga tersebut, sekolah seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak. Namun, rencana aktivitas tambang justru menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

“Tempat yang seharusnya nyaman untuk belajar sekarang dihantui dengan keberadaan tambang galian C,” lanjutnya.

Debu Dikhawatirkan Masuk Lingkungan Sekolah

Warga mengkhawatirkan mobilitas kendaraan tambang membawa debu ke sekitar sekolah.

Setiap kendaraan yang keluar masuk lokasi dapat menimbulkan debu, terutama saat kondisi jalan kering. Debu tersebut berpotensi mengotori lingkungan sekolah dan mengganggu kenyamanan siswa.

Warga berharap pemerintah mengkaji kondisi tersebut secara serius sebelum aktivitas tambang berjalan.

Mereka juga meminta pemerintah mempertimbangkan jarak antara akses kendaraan tambang dan fasilitas pendidikan.

Suara Kendaraan Bisa Ganggu Belajar

Selain debu, warga menyoroti potensi kebisingan.

Aktivitas dump truck yang keluar masuk lokasi tambang dapat menimbulkan suara kendaraan berat. Jika aktivitas berlangsung saat jam sekolah, kondisi tersebut berpotensi mengganggu konsentrasi siswa dan guru.

“Suara bising akan mengganggu pelajaran,” ujar warga.

Menurutnya, proses belajar membutuhkan lingkungan yang nyaman. Anak-anak juga berhak mendapatkan ruang pendidikan yang aman dari gangguan aktivitas kendaraan berat.

Dump Truck dan Keselamatan Siswa

Kekhawatiran lain muncul dari lalu lintas dump truck di depan sekolah.

Siswa SD masih berada pada usia yang membutuhkan pengawasan ketika berjalan di sekitar jalan. Kehadiran kendaraan berat tentu membuat warga semakin waspada, terutama saat jam berangkat dan pulang sekolah.

“Lalu lalang dump truck akan rawan kecelakaan terhadap anak,” katanya.

Karena itu, warga meminta pihak berwenang memperhitungkan faktor keselamatan siswa secara menyeluruh.

Warga Minta Anak Tidak Jadi Korban

Warga tidak menutup mata terhadap kebutuhan pembangunan maupun aktivitas ekonomi. Namun, mereka meminta kepentingan tersebut tidak mengorbankan keselamatan anak-anak.

Bagi warga Tunggulsari, sekolah merupakan ruang penting bagi masa depan generasi desa. Anak-anak harus belajar dalam lingkungan yang nyaman tanpa rasa khawatir terhadap debu, kebisingan, maupun kendaraan berat.

Karena itu, warga meminta pemerintah melakukan kajian dan membuka ruang dialog sebelum aktivitas tambang berjalan.

Mereka juga berharap semua pihak mencari solusi yang tidak menempatkan sekolah dan siswa dalam situasi berisiko.

Keselamatan Anak Harus Jadi Prioritas

Persoalan tambang galian C di depan SDN 1 Tunggulsari kini tidak hanya menyangkut aktivitas pertambangan. Warga melihat persoalan ini sebagai isu keselamatan, kenyamanan belajar, dan masa depan anak-anak.

Pemerintah perlu mendengar kekhawatiran masyarakat serta memastikan setiap keputusan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekolah.

“Jangan sampai anak-anak yang harus menanggung dampaknya,” harap warga.

Bagi masyarakat Tunggulsari, pembangunan seharusnya membawa manfaat tanpa mengorbankan ruang aman bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!