Emak-emak Tunggulsari Marahi Tim Tambang yang Bersembunyi di Balik Pohon, Warga: Ini Peringatan Terakhir!
KENDAL, ISR – Penolakan terhadap tambang galian C Tunggulsari kembali memanas. Sejumlah emak-emak yang mendatangi plang izin operasional tambang di Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, mendapati sekitar lima orang yang disebut warga sebagai tim tambang berada di balik pohon tak jauh dari lokasi.
Keberadaan sejumlah orang itu diketahui saat warga mendekati plang tambang galian C Tunggulsari. Para emak-emak kemudian menegur dan memarahi mereka karena memilih berada di balik pohon ketika warga datang ke lokasi.
Warga kemudian menyoroti keberadaan mereka dengan menggunakan senter. Situasi tersebut membuat orang-orang yang disebut sebagai tim tambang meninggalkan lokasi dengan berlari.
Peristiwa itu terjadi ketika ketegangan terkait rencana aktivitas pertambangan di Tunggulsari belum sepenuhnya mereda. Sebagian warga masih menyatakan penolakan dan meminta semua pihak menahan diri agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik antarmasyarakat.
Warga Tunggulsari Gelar Selamatan dan Pasang MMT Penolakan Tambang
Sehari sebelumnya, Senin malam, 31 Agustus 2026, ba’da Isya, warga Tunggulsari menggelar selamatan sekaligus memasang MMT penolakan tambang galian C.
Warga memasang MMT di jembatan depan SDN 1 Tunggulsari. Titik tersebut menjadi perhatian masyarakat karena berada di sekitar akses yang mereka persoalkan terkait rencana aktivitas pertambangan.
Bagi warga yang menolak, pemasangan MMT bukan sekadar memasang spanduk. Mereka ingin menyampaikan pesan bahwa penolakan terhadap aktivitas tambang masih kuat dan mereka meminta pihak terkait menghormati aspirasi masyarakat.
Kegiatan selamatan juga menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan menyampaikan keresahan mereka secara terbuka.

Emak-emak: Kami Sudah Muak
Juwariyah, salah seorang warga Tunggulsari, mengaku kecewa dengan situasi yang terus berkembang terkait persoalan tambang di desanya.
Menurutnya, masyarakat sudah cukup lama menghadapi polemik tersebut. Ia berharap kepentingan ekonomi tidak mengorbankan ketenangan warga dan kelestarian lingkungan desa.
“Kami sudah muak dengan mereka yang ingin menghancurkan desa hanya karena uang,” ujar Juwariyah.
Ia berharap persoalan tambang tidak terus memicu ketegangan di tengah masyarakat. Menurutnya, warga ingin mempertahankan desanya tanpa harus terlibat dalam konflik.
“Ini peringatan terakhir,” tegasnya.
Pernyataan itu menunjukkan besarnya kekecewaan sebagian warga terhadap polemik tambang yang belum menemukan titik penyelesaian.
Warga Minta Semua Pihak Menjaga Kondusivitas
Meski menyampaikan penolakan dengan tegas, warga juga menginginkan situasi Tunggulsari tetap aman dan kondusif.
Mereka memilih menyampaikan aspirasi melalui pertemuan warga, selamatan, pemasangan MMT, serta berbagai jalur komunikasi dengan pihak terkait.
Warga berharap pemerintah dan pihak perusahaan membuka ruang komunikasi yang sehat agar persoalan tersebut tidak semakin memperlebar jarak antara kelompok yang pro dan kontra.
Bagi warga yang menolak, persoalan tambang bukan hanya soal pengambilan material dari tanah. Mereka juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, akses warga, kehidupan sosial, serta masa depan desa.
Karena itu, pemasangan MMT pada Senin malam menjadi pesan terbuka bahwa penolakan terhadap tambang galian C di Tunggulsari belum berakhir.
Warga berharap semua pihak menahan diri dan tidak mengambil langkah yang dapat memicu ketegangan baru.
Bagi mereka, Tunggulsari bukan sekadar tempat mengambil material tambang. Desa itu merupakan ruang hidup, tempat keluarga mereka tinggal, anak-anak tumbuh, dan kehidupan masyarakat berlangsung setiap hari.
Karena itu pula, mereka ingin setiap keputusan mengenai aktivitas pertambangan mempertimbangkan suara dan kepentingan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
