MPLHK Kendal menyiapkan program Hybrid Engineering Mangrove dengan struktur bambu untuk meredam energi gelombang dan membantu pemulihan kawasan pesisir.
MPLHK Kendal menyiapkan program Hybrid Engineering Mangrove dengan struktur bambu untuk meredam energi gelombang dan membantu pemulihan kawasan pesisir.

Atasi Abrasi, MPLHK Kendal Siapkan Hybrid Engineering Mangrove

KENDAL, ISR – Ancaman abrasi terus mengikis kawasan pesisir Kabupaten Kendal. Kondisi tersebut mendorong Yayasan Masyarakat Peduli Lingkungan Hidup Kendal (MPLHK) menyiapkan inovasi pemulihan pesisir melalui program Hybrid Engineering Mangrove.

MPLHK menargetkan program tersebut mulai berjalan sebelum akhir 2026. Program ini memadukan rekayasa fisik ramah lingkungan dengan restorasi mangrove untuk membantu mengurangi abrasi dan erosi di pesisir utara Kendal.

MPLHK menyebut pendekatan tersebut diklaim mampu menekan erosi hingga 80 persen. Namun, angka tersebut merupakan target atau klaim program dan perlu pembuktian melalui pemantauan lapangan setelah penerapan.

Abrasi Gerus Kawasan Pesisir Kendal

Abrasi dan erosi menjadi persoalan serius di sejumlah kawasan pesisir Kendal. Gelombang tinggi dalam beberapa tahun terakhir disebut telah mengikis puluhan hektare lahan tambak.

Kondisi itu juga meningkatkan risiko bagi kawasan permukiman warga. Upaya penanaman mangrove secara konvensional menghadapi tantangan karena gelombang kuat dan substrat lumpur yang belum stabil.

MPLHK kemudian memilih pendekatan Hybrid Engineering Mangrove. Tim akan membangun struktur fisik terlebih dahulu agar kawasan pesisir memiliki kondisi yang lebih mendukung bagi pertumbuhan mangrove.

Gunakan Bambu untuk Redam Gelombang

MPLHK akan membuat permeable structure atau pagar semi-lulus air di kawasan pasang surut. Tim memanfaatkan material lokal seperti bambu dan ranting kayu.

Struktur tersebut tidak bertujuan membendung air laut sepenuhnya. Pagar justru berfungsi memecah energi gelombang sehingga tekanan terhadap garis pantai berkurang.

Saat energi gelombang menurun, lumpur yang terbawa arus pasang surut dapat mengendap di sekitar struktur. Endapan tersebut kemudian diharapkan membentuk kawasan lumpur atau mudflat.

Setelah substrat cukup stabil, mangrove dapat tumbuh dengan lebih baik. Tim juga dapat melakukan penanaman secara terarah untuk mempercepat proses restorasi.

MPLHK Dorong Kolaborasi Pemerintah

MPLHK menilai teknologi saja tidak cukup untuk memulihkan kawasan pesisir. Program membutuhkan dukungan pemerintah, masyarakat, serta berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap wilayah pesisir.

MPLHK berharap Pemerintah Kabupaten Kendal dapat memasukkan program tersebut dalam kebijakan tata ruang dan perlindungan lingkungan.

Dukungan anggaran juga menjadi salah satu kebutuhan. MPLHK berharap program mendapat dukungan APBD Kabupaten Kendal, sektor swasta, dan dunia usaha.

Nelayan dan Warga Ikut Terlibat

Ketua sekaligus tim pelaksana program MPLHK, Sidiq Wibowo, mengatakan masyarakat pesisir akan menjadi bagian penting dalam program tersebut.

Kelompok nelayan dan warga akan terlibat dalam perakitan struktur bambu. Mereka juga dapat membantu menata kawasan sedimentasi dan memantau lokasi restorasi secara berkala.

“Keberhasilan pemulihan pesisir tidak hanya bergantung pada struktur yang kita bangun. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar kawasan yang dipulihkan dapat terjaga,” ujar Sidiq.

Melalui pendekatan ini, MPLHK berharap Hybrid Engineering Mangrove dapat membantu mengurangi dampak abrasi sekaligus memulihkan kawasan pesisir Kendal.

Program tersebut juga diarahkan untuk melindungi aktivitas petambak dan nelayan. Pada saat yang sama, pemulihan mangrove dapat membantu memperkuat ekosistem pesisir.

Jika berjalan sesuai target, perpaduan rekayasa lingkungan, restorasi mangrove, dan partisipasi masyarakat dapat menjadi salah satu pilihan dalam menghadapi ancaman abrasi di pesisir Kendal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang keras mengambil konten!