Ahmad Dhani: Hafalan Musik dan Al-Qur’an Tak Bisa Bersatu
​ISR – Pernyataan kontroversial muncul dari musisi senior Ahmad Dhani yang menyebutkan bahwa hafalan musik dan Al-Qur’an tak bisa bersatu dalam ingatan seseorang. Ia berpendapat bahwa kapasitas memori manusia tidak akan mampu menggabungkan (combine) lirik serta nada musik dengan ayat-ayat suci secara maksimal. Sudut pandang ini menarik perhatian banyak pihak, terutama saat kita mengaitkannya dengan prinsip-prinsip dasar dalam agama Islam mengenai penjagaan kesucian hafalan kalamullah dari hal-hal yang bersifat melalaikan.
​Dalam kajian spiritual, fenomena mengenai hafalan musik dan Al-Qur’an tak bisa bersatu ini selaras dengan banyak pendapat ulama salaf. Mereka menegaskan bahwa Al-Qur’an dan nyanyian memiliki karakteristik yang saling bertolak belakang di dalam hati manusia. Penjelasan ini merujuk pada tafsir para sahabat Nabi mengenai lahwal hadits dalam Surat Luqman, yang mana musik cenderung mengisi jiwa dengan kesenangan duniawi, sementara Al-Qur’an menuntut ketenangan batin dan fokus spiritual yang murni.
​Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah bahkan mempertegas bahwa kecintaan pada musik dan Al-Qur’an tidak akan pernah bertemu dalam satu jiwa tanpa salah satunya mengusir yang lain. Musik seringkali mendistorsi konsentrasi dan menciptakan keriuhan dalam pikiran yang mengganggu proses murojaah atau pengulangan hafalan ayat. Oleh sebab itu, membatasi input pendengaran dari musik menjadi strategi utama bagi para penghafal Al-Qur’an agar cahaya wahyu tetap melekat kuat dan tidak mudah hilang dari ingatan.
